Tujuh tahun setelah pertemuan
terakhir dengannya sungguh sangat menyisakan banyak pertanyaan. Entah sampai
kapan aku akan menunggu jawaban dari pertanyaan itu. Untuk melepaskan harapan
ke dia pun sungguh terasa berat. Walau kabar dari dia pun tidak ada karena
alasan yang tidak ku ketahui tapi aku
akan selalu menunggu sampai dia memberikan kepastian. Seperti saat ini harapan
itu akan selalu ada. Dan aku percaya bahwa jawaban itu tidak akan lama lagi.
Dan aku sangat yakin bahwa jawaban itu sangatlah indah walaupun pada awalnya
sangat menyakitkan.
***
Part 1
Shaina POV
Suara jeritan alarm membangunkanku dari perjalanan indah di pulau kapuk.
Ku ambil jam itu dan ku lihat waktu
menunjukkan pukul 5 segera setelah itu ku matikan alarm jam itu. Karena sudah
terbiasa dengan kedisplinan beberapa tahun ini membuatku langsung bergegas
bangun dan mempersiapkan diri menantang dunia dengan segala isinya. Sebelum
melangkah ke kamar mandi aku melirik handphoneku dan di sana tertera 7 misscall
dan 4 sms. Nanti saja aku baca paling
dari Caca, gumamku dalam hati sambil membanting telepon genggam super canggih
itu ke kasur.
Setelah mempersiapkan diri aku
menuju ruang makan sekedar meminta bantuan ibu tercinta untuk membungkuskanku
sarapan. Maklum pekerjaanku sebagai seorang auditor menyebabkanku harus
disiplin terhadap waktu jadi tidak sempat sarapan di rumah kalau tidak mau
terjebak di kemacetan ibukota. Selain itu, peraturan di kantor akuntan tempatku
bekerja kedisplinan sangat dinomorsatukan. Pukul 8 harus tiba di kantor apalagi
hari ini ada meeting dengan pimpinan
mengenai klien yang akan aku datangi hari ini. Mau tidak mau jam 6 aku harus
berangkat dan mau tidak mau juga harus sarapan di kantor.
Apalagi kantorku itu terletak di pinggir jalan utama ibukota yang
kemacetannya super duper. Setelah semua sudah siap yaitu sarapan dan mobil yang
sudah dipanaskan aku pamitan kepada ibu dan ayahku tercinta untuk pergi. Ya,
hanya aku sekarang yang tinggal di rumah keluarga ini bersama ayah dan ibu.
Ketiga kakakku sudah memiliki keluarga sendiri. Jadilah aku anak bungsu yang amat teramat di sayangi apalagi
aku anak perempuan satu-satunya. Ayah dan ibuku sudah lama pensiun dari
pekerjaan mereka sebagai pegawai pemerintahan. Saat ini ayah dan ibu sibuk
dengan toko mereka masing-masing. Ayah yang pecinta segala burung membuka toko
tentang burung dari segala pakan dan makanannya. Ibuku yang pecinta tanaman
dari gadis membuka toko tanaman yang dibantu karyawan. Ya, mereka hanya
mengawasi walaupun sekali-kali terjun langsung dalam usaha unik mereka itu.
“Ayah,ibu
Shaina pamit ya.” Ucapku sambil menyalami kedua tangan mereka bergantian.
“Iya
kamu hati-hati ya nak, ayah sedih sejak jadi auditor kamu jadi jarang bahkan
tidak pernah ya Bu sarapan di rumah.” Ucap ayah yang langsung ditanggapi ibu
dengan anggukan.
“Ya ini
sudah jadi risiko auditor yah. Ayah sabar saja ya.” Ujarku sambil tersenyum
selebar mungkin dan setelah itu bergegas menuju mobil PT Cruisher-ku –yang
kuberi nama boy- yang sudah dipanaskan dan siap tempur membelah jalanan
ibukota.
Lagi-lagi kejebak macet padahal ini baru jam setengah 7 gumamku dalam hati.
Aku langsung teringat sms dari Caca yang belum aku baca. Sejak jadi auditor 4
tahun ini kesibukanku memang luar biasa. Yang biasa tiap minggu bertemu dengan
sahabatku sekaligus chairmate saat SMA -si Caca- sekarang sudah jarang banget.
Begitupun juga dengan berkurangnya kegiatan begadang tiap malam sekedar hanya
untuk berbagi cerita. Mumpung lagi macet aku baca dulu deh sms dari dia. Sms apa ya dia, gumamku dalam hati
sambil membuka kunci handphone canggihku ini dan membaca rentetan kata dari
sahabatku itu.
Sms pertama:
diterima pukul 01.00.36 dari Caca
Na besok malem jam7 kongkow yuk. Lusa kan elo
ke Jogja kpn lagi kita ketemu. Udah 2 bulan ni kita gak ketemu. Kangen deh gua.
Lo kan janji mau ketemu,besok malam aja ya.
Sms Kedua :
diterima pukul 01.05.29 dari Caca
Bisa
gak elo? Faali kemaren ngehubungin gue katanya mau ikut ketemuan juga. Kangen
juga dia sama kita hehe si Rizan kayaknya masih betah di Jogja deh na. Gak ada
kabar ya dia kemana aja selama ini heran gue.
Sms Ketiga :
diterima pukul 01.08.36 dari Caca
Eh iya.. Gue sih berdoa nanti misi lo buat
nyari dia berhasil na, kan sekalian tu elo ke sana.Oh iya si Faali bilang
katanya hp lo gak aktif makanya dia ngehubungi gue. Pas kan entar dia temenin
calon laki gue :P pokoknya kita harus ketemu besok ya gue lusa juga mau pergi
ke rumah camer di solo :P
Sms keempat:
diterima pukul 01.10.36 dari Caca
Shainaaaaaaaaaaa.. lo diutan yah!! Sms gue
gak dibls, telpon gue gak diangkat pasti udah molor deh ni, tumben bener gak
biasanya L emg capek ya jadi auditor :p. Yaudah bsk
pokokny gw tggu di Joytaste. Lagian kan ada si Faali itung2 reunian kecil :P
udah lama jg kan qt gak ke sana J. Jangan sampe gak dateng ya na. Gue marah
kalo elo gak dtg!!!!
Aku geleng-geleng kepala sendiri
baca sms dari Caca, ini orang semangat amat ya tengah malam ngabari berita
tentang reunian. Apa dia punya rencana terselubung tentang masa laluku pada
acara reunian nanti ya.. aahh tapi tidak mungkin,, desahku. Caca kan tahu nya
aku sudah melupakan laki-laki itu. Ya pastilah laki-laki itu tidak mungkin akan datang.
Mungkin saja selama kehilangannya 7 tahun ini dia sudah punya kekasih
atau mungkin dia sudah menikah. Tapi entah kenapa laki-laki itu selalu memenuhi
otak dan hatiku sampai aku menutup hati untuk pria lain selama 7 tahun ini. Ya,
tepatnya setelah kelulusan SMA.
Entah perasaan macam apa ini umurku yang sudah 25 tahun ini masih saja
mengharapkan pria yang jelas-jelas tidak akan pernah menganggap cintaku. Sekali
lagi hatiku ini selalu berkata akan ada keajaiban. Entahlah. Yang jelas aku
akan menemuinya dalam perjalanan kerjaku ke Jogja dan jika bertemu aku akan
menanyakan hal yang selama ini selalu aku pikirkan apakah pantas dilakukan
seorang wanita. Tetapi jika aku tidak bertemu juga dengannya aku akan menunggu
selama 2 tahun lagi untuk menunggu ketidakjelasannya selama ini, karena aku
yakin dia akan datang kepadaku, tetapi jika masih belum ada kejelasan dari dia
aku akan menerima tawaran orang tuaku untuk dijodohkan. Ya aku pasrah. Tetapi
kenapa harus di Joytaste sih si Caca ngajak kongkownya. Makin ingat saja kan
kenangan masa SMA dulu. Lamunanku terhenti karena terdengat suara rongrongan
klakson mobil di belakang mobilku. Ku lirik jam dan ternyata lumayan lama juga
aku melamun.
***
Pukul 7 lewat 20 menit aku sudah tiba di parkiran gedung tempat kantorku
bermuara. Masih ada waktu untuk membalas sms Caca dan menghabiskan sarapanku.
Sambil memakan sarapanku aku membalas sms Caca.
dikirim pukul 07.21.49
Hai Caa,,bawel deh sms elo.. :p iya gue
usahain dateng..hhaa untung lo ngingetin gue yah.. lo kan tau gw sibuk!! Tp gue
agak telat dikit ya Ca, gue entar ada meeting
dulu di kantor. Duuh senengnya yg mau ketemu camer :p ada jg yg mau jdiin
lu bini yah..hhee Ok, see you later
ya sis :D
Setelah mengetik pesan itu dan mengirimnya aku bergegas menghabiskan
sarapan dan menuju ruanganku untuk menyiapkan berkas-berkas yang mesti dibawa
untuk meeting nanti.
***
“Shaina
Sucahyo bagaimana persiapan nanti?”suara Pak Dugi menggema di belakangku. Kapan
datangnya ya dia kok tiba-tiba sudah di belakangku saja. Salah satu kebiasaan
bosku itu jika memanggil atau menyapa pegawainya selalu dengan nama yang
lengkap bahkan ada temanku yang namanya 4 kata saja bosku itu hapal. Mungkin
itulah kecerdasannya sehingga ia menjadi seorang pimpinan di kantor akuntan
ini. Mewarisi kantor milik ayahnya.
“Semua
sudah dipersiapkan Pak. Saya sebagai ketua tim sudah memberi tahu anggota untuk
mempersiapkan apa saja yang harus dipersiapkan. Saya juga sudah menghubungi
mereka bahwa hari ini ada meeting dengan bapak sebelum menuju kantor perwakilan
klien kita Pak”. Jawabku dengan suara yang mantap dan tegas. Sejak dipercayakan
menjadi ketua tim selama 3 tahun ini otomatis pekerjaanku makin banyak dan
padat. Tapi aku bisa mengatasinya dengan memanfaatkan waktu luang yang tersedia
sebaik mungkin dengan keluarga, sahabat dan teman.
“Oke
saya tunggu kamu beserta tim kamu di ruangan saya ya”. Ujar Pak Dugi sambil
tersenyum ramah. Pak Dugi yang bertubuh gemuk dan sudah berusia kepala 5 adalah
pribadi yang sangat humoris tetapi tetap tegas. Dia sangat tahu dimana harus
serius dan dimana harus santai.
***
Tak terasa waktu menunjukkan jam makan siang. Aku bergegas membereskan
berkas-berkas. Setelah jam makan siang aku beserta tim akan menuju kantor
klien. Meeting dengan Pak Dugi tadi cukup memakan waktu. Mengingat aku dan tim
akan mengaudit perusahaaan besar dengan anak perusahaan yang banyak pula. Jadi
meeting tadi membahas banyak hal. Besok aku beserta tim akan langsung menuju
Jogjakarta dimana kantor pusat perusahaan tersebut berada. Saat mengecek
handphone ada balasan dari Caca.
Diterima pukul 12.13.00 dari Caca
Yaelah sok sibuk deh lo yah..tau deh yg
auditor..kyknya elo dluan nih yg merit na,, :p gw bru rencana2 doank, blm tau
kpnnya..hhaa lo kan tau calon laki gw..angkatan darat,pergi2 mulu..nunggu lulus
dlu!!repot dah.. L oke gw tunggu nanti yah..telatnya jgn lama2
ya..entar gw keburu lumutannn :D
Aku tersenyum dan tertawa kecil membaca balasan dari Caca yang
sepertinya tidak usah dibalas. Apaan coba aku yang nikah duluan. Jelas-jelas
dia yang sudah punya calon duluan. Aku mana coba calonnya. Masih gak jelas
alias masih aja berharap. Yang jelas aku masih akan menunggu. Oh iya, jadi
inget si Faali sahabatnya si Rizan. Sekaligus sahabatku juga. Dulu kami
berempat-aku,Caca,Faali dan Rizan- duduk depan belakang saat SMA.
Dulu kami disebut gerombolan si berat, sebutan tersebut bukan berarti
tubuh kami tambun-tambun melainkan karena sering pergi bersama-sama. Tetapi
sejak perayaan kelulusan kecil-kecilan kami, Rizan menghilang dengan banyak
pertanyaan di otakku. Sedangkan Faali baru muncul lagi sejak 4 tahun belakangan
ini yang tanpa sengaja aku bertemu dengannya di kantor klien. Sejak itulah aku
kembali merekatkan hubungan kami yang sudah lama renggang walau tanpa Rizan.
Memang 1 tahun sejak lulus SMA Faali masih berhubungan dengan Rizan tetapi
entah kenapa Rizan tiba-tiba menghilang begitu saja sejak 5 tahun lalu. Jadi
baik aku, Caca dan Faali sama sekali tidak tahu keberadaan Rizan persisnya
dimana sekarang. Yang jelas ku ketahui tentangnya ialah ia terakhir pergi ke
Jogja untuk kuliah di sana. Dan menurut keyakinan Faali, Rizan masih ada di
Jogja.
Aku sudah berusaha selama ini
menghubunginya tetapi ya itu nihil. Yang jelas selama ini aku juga ikut mencari
diam-diam kabar tentang si Rizan. Kalau terang-terangan bisa dipastikan Faali
akan curiga kalau aku memendam rasa cinta sama si Rizan. Ya hanya Caca yang
tahu tentang perasaanku ini. Ya perasaan mendalam terhadap sahabat sendiri. Memang
ini terdengar sudah biasa tapi aku punya alasan kenapa bisa mencintai sahabat
sendiri. Alasannya klasik memang, tetapi yang namanya perasaan mana bisa
ditebak.
Menurutku Rizan adalah sosok lelaki yang sangat peduli denganku. Hingga
seringnya rasa peduli itu membuat diriku menumbuhkan perasaan cinta
terhadapnya. Cinta yang terus berkembang hingga 7 tahun ini. Ia adalah sosok
yang menerima aku apa adanya. Tetapi yaitu aku tidak tahu bagaimana persis
perasaannya padaku. Inilah perasaan sulit diungkapkan dengan kata-kata. Memang
aku tidak berharap kisahku akan seperti novel,drama, atau apapun itu yang
berkaitan dengan kisah roman. Lagi-lagi aku hanya yakin bahwa akan ada
keajaiban. Perasaanku kuat akan hal itu. Yang jelas sekarang aku harus menunggu
walau itu butuh bertahun-tahun hingga 7 tahun ini.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar