Part 3
Shaina
POV
Aku yang shock mendengar kabar Rizan bertunangan pun berusaha tersenyum
senormal mungkin. Hancur hatiku, remuk saat mendengar rizan mengenalkan “calon
istrinya” itu kepadaku. Habis sudah harapan yang aku bangun selama ini
tentangnya. Sekarang aku benar-benar wanita yang hancur karena memiliki pengharapan
yang tinggi terhadap seorang lelaki. Entahlah perasaanku yang tadi
berbunga-bunga atas sikap Rizan yang berbeda terhadapku sekarang berubah
seketika. Jadi penantianku selama 7 tahun ini sia-sia. Alasan yang tidak logis
memang menunggu seorang selama itu.
Biasanya instingku selalu benar terhadap perasaanku. Tetapi ini apa.
Kenapa jadi begini. Aku memang tidak berhak menyalahi Rizan. Toh memang selama
ini diriku saja yang ke-pede-an berharap ia suka padaku. Tetapi kenyataannya
sekarang di hadapanku ia telah memiliki seorang tunangan. Lalu apa maksud kata
ambigu yang pernah ia ucapkan dulu ke aku. Dan Aku harus bagaimana sekarang.
Rasanya aku ingin pergi dari sini tetapi kalau seperti itu akan membuat rizan
dan yang lainnya curiga. Aku merasa nyawaku sudah melayang setengah. Dan besok
aku harus ke Jogja pula. Entahlah rasanya semangat itu telah padam dan semua
seakan bertumpuk jadi satu. Satu masalah datang.
“Hei,
kok jadi pada diam? Terpesona sama tunangan gua?” Suara Rizan yang terkekeh membuyarkan
tentang “hatiku yang sedang berdenyut” menanti apa yang akan ia kabari
berikutnya. Dan ku melihat ke arah Maura ia pun tersenyum dengan ucapan Rizan
tadi.
“Gak Zan,
kaget aja gua selama ini elo menghilang dan sekarang tiba-tiba bawa tunangan.”
Celetuk Caca sembari menatap ke arahku seolah mewakili perasaanku yang
bertanya-tanya tentang hal ini.
“Iya Zan
udah mau nikah aja dong elo ya? Mau nyusul gua ya? Gila! Hilang 7 tahun
langsung mau nikah!” Tanya Faali.
“Nyusul?”
Tanya Rizan heran dengan pertanyaan Faali.
