Shaina POV
Seharian berkutat dengan segala hingar bingar pekerjaan sebagai auditor
cukup membuatku pusing. Ku lirik jam tanganku dan waktu menunjukkan pukul
20.15. Wah aku sudah terlambat, gumamku dalam hati. Segera aku membereskan
berkas-berkas yang akan aku bawa besok ke Jogja. Saat membereskan berkas-berkas
ada benda yang tidak asing lagi bagiku, benda
yang selalu mengingatkan aku pada suatu kejadian 7 tahun lalu. Yang
mengingatkanku pada sosok bernama Rizan.
***
7 tahun
lalu di Kelas XII IPS 3..
“Ngelamunin
apa sih Na? Serius amat wajah lo!” Tanya Rizan tiba-tiba mengagetkanku dari
lamunan panjangku tentang masa depan.
“Iya ni
Zan mikirin elo ni gue hehe.” Jawabku sambil melebarkan senyuman yang
mempertontonkan gigi kelinciku ke arah Rizan.
“Ah
becanda aja elo ya! Mikirin apa sih Shaina Sucahyo? Udah apapun itu gak usah
dipikirin ya.” Ucap Rizan menenangkanku seolah paham dengan apa yang ada di
pikiranku saat ini.
“Gue
lagi mikirin masa depan ,Zan. Gue bingung mau ngambil kuliah apa.” Ucapku
sambil melirik brosur sebuah perguruan tinggi.
“Udah
gak usah terlalu dipikirin. Urusan begituan mah gua ni yg laki-laki yg mesti
ribet. Gua kan bakal jadi calon kepala keluarga nanti. Jadi gak usah dipikirin
ya. Tenang aja elo bakal dapet suami yang tepat kok nanti yang bikin elo gak usah
pusing-pusing kerja.” Ujar Rizan dengan wajah tenangnya.
“Ya gak
gitu jugalah,gue juga pengen punya karier, Zan. Pengen bahagiain ayah dan ibu
gue juga kan Zan. Ya,Setidaknya bisa menunjang suami juga kan nanti. Belum juga
lulus SMA omongan kita udah ke pernikahan aja. Hahaha.” Ucapku sambil tertawa.
“Ya
harus dari sekarang mah Na itu
dipikirin. Kita kan nanti bakal jadi orang tua. Lagipula tadi juga udah gua
bilang gua kan calon kepala keluarga jadi mesti siap-siap dari
sekarang.”Ucapnya lagi.
“Hemm.
Begitu toh,pusinglah gue. Yang penting sekarang lulus aja dulu deh soal nikah
atau kerja nanti juga bakal ketemu sendiri.”Ucapku lagi
“Iya
yang penting lulus dulu. Kelamaan ngobrol lupa kan gua mau ngasih ini.” Sahut Rizan
sambil menyodorkan sebuah bolpoint. Tampak dari fisiknya bolpoint itu cukup
mahal. Dapat dari mana ya dia,ucapku dalam hati.
“Ini
dari bokap Na kemaren Beliau baru dari Australia. Gue dikasih ini. Ini buat elo
aja. Ya hitung-hitung sebagai tanda semakin erat hubungan persahabatan kita.
Hehehe.”Ucap rizan tertawa kecil menjawab pertanyaanku tentang bolpoint itu.
“Serius
ini buat gue? Kayaknya mahal ini Zan. Bokap lo bisa marah kalau ini dikasih
gue. Tanyaku dengan ekspresi sedikit “tidak enak”. Walaupun aku tahu ayah Rizan
tidak akan marah tetap saja aku merasa tidak enak. Begitulah Rizan suka banget
ngasih benda-benda ke aku.
“Gak
kok. Selow aja sama gue Na. Banyak alasan buat ngasih bolpoint itu ke elo Na.
Nanti juga tau alasannya.”Ucap Rizan.
“Apa
alasannya?” Tanyaku penasaran.
“Nanti
gua kasih tau yang penting sekarang elo terima ya bolpoint itu.” Jawab Rizan
sedikit memaksa lagi-lagi dengan senyuman mautnya yang membuatku tak bisa menolak
pemberiannya.
Itulah penggalan perbincangan kami saat itu yang selalu aku ingat hingga
detik ini. perbincangan tentang masa depan yang membuatku sekali lagi
bertanya-tanya tentang banyak hal. Dari dulu Rizan memang sangat terbuka
denganku mengenai banyak hal termasuk tentang masa depan. Tapi ya itu, aku
masih belum bisa menebak tentang perasaannya bagaimana ke aku. Rasa penasaran
tentang perasaannya pun bertambah dengan belum terungkapnya alasan dia
memberikan bolpoint itu ke aku. Sampai sekarang aku masih menunggu untuk semua
hal itu.
“Ehem..ehem,
lagi ngelamunin apa sih auditor cantik kita yang satu ini?” Terdengar suara
laki-laki yang tak asing di telingaku membuyarkan lamunanku tentang kejadian 7
tahun silam. Sambil menggenggam pulpen pemberian Rizan di tangan kiriku, aku
menatap ke arah sumber suara.
“Vio!!
Kapan balik dari Australia?” Teriakku spontan berlari menuju ke arah Vio dengan
masih mengenggam pulpen pemberian Rizan. Vio atau Alvio Adiyatma adalah salah
seorang auditor senior di kantor akuntan ini dan merupakan anak sulung Pak Dugi.
Ia juga merupakan pewaris kantor akuntan ini kelak. 2 tahun lalu ia cuti karena
pergi ke Australia untuk menyelesaikan program masternya. Dan memang, aku cukup
dekat dengan dia. Dia sudah aku anggap sebagai abangku sendiri. Selama ini kami
berhubungan via internet. Hubungan kami layaknya hubungan adik dan kakak tidak
lebih. Vio pun setahuku juga sudah memiliki seorang kekasih walau kadang ia
enggan bercerita tentang seputar asmaranya kebanyakan malah ia yang selalu
menanyakan kisah asmaraku. Dan hanya Vio -orang di kantorku- yang tahu bahwa
aku masih mencintai dan menunggu seorang Rizan hingga 7 tahun ini.
“Hahaha
Shaina ini masih seperti yang dulu aja. Aku baru balik tadi sore dan langsung
inget kamu,Na.” Ucap Vio diiringi tawa sambil memelukku erat layaknya memeluk
seorang adik perempuannya.
“Aku kangen banget sama kamu Vi!sumpah sudah 2
tahun ya kita gak ketemu. Kalau kamu bilang kan aku bisa jemput.” Ujarku sambil melepaskan pelukan vio.
“Masa
sempet sih seorang Shaina yang sekarang sering jadi ketua tim dan super sibuk
ini bisa jemput seorang Alvio? ” goda Vio sambil mencubit pipiku.
“Aduh,kebiasaan
banget sih suka nyubit pipi aku!” Ucapku sambil melepas cubitan vio di pipi
dengan tangan kananku.
“Haha,
masih seperti yang dulu suka ngambek. Serius deh Na aku kangen pengen nyubit
pipi kamu. Hehe.” ujar Vio dengan ekspresi menggoda.
“Oh iya
besok kamu ke Jogja kan Na? Tadi Papa bilang ke aku.“ ucap Vio sekali lagi
dengan senyuman mautnya yang menampilkan lesung pipit di kedua belah pipinya.
“Iya
besok mau ke Jogja mau audit perusahaan ituloh yang anak perusahaannya banyak
di sini.” Jawabku masih dengan wajah yang sedikit jengkel.
“Ehem
ehem udah Mbak kangen-kangenannya?? Terdengar suara Ujang-OB kantor- menghentikan
obrolanku dengan Vio. Kami pun menoleh.
“Aduh
Ujang, kamu ini mengganggu kegiatan kangen-kangenan kami aja.” Ujar Vio sambil
meraih pundakku dan memelukku dari samping yang membuat kami berdiri
berdampingan. Aku pun menatapnya dengan tatapan yang seolah berkata “ngapain coba
kita begini, mau nyebar gosip lagi?”. Karena dari dulu orang kantor tahunya aku
dan vio ada hubungan “apa-apa”. Namun, sejak Vio bercerita telah punya kekasih ke
seisi kantor isu itu pun kandas berganti dengan isu lain.
“Aduh
saya beneran ganggu ni ya mbak,mas. Saya sih cuma ikut perintah aja tadi kata
mbak Gina saya dipanggil mbak Shaina. Gitu. Yauda saya balik aja deh ke
pantry.” Ucap Ujang dengan wajah memelas yang dibuat-buat.
“Jadi
kamu cemburu ni Jang sama saya.” Jawab Vio asal sambil tertawa kecil.
“Aduh
makin ngaco aja kalian. Ujang kamu bercanda sama saya ya sampai ngambek begitu?
Saya emang tadi nyuruh Gina buat manggil kamu ke sini. Saya mah sama si Vio ini
gak perlu kangen-kangenan. Kan saya juga gak kangen sama dia.” Ucapku asal
sambil mencibirkan bibirku ke arah vio dan melepas tangannya dari pundakku. Vio
pun menatapku dengan tatapan yang tak bisa ditebak. Aku pun mengisyaratkan dia
untuk diam. Ia pun hanya mengangguk lemah.
“Ini
Jang tolong bawain berkas-berkas saya ke mobil ya.” Ucapku lagi sambil menunjuk
ke arah tumpukan berkas yang siap diangkat.
“Haha Mbak
Shaina lagipula siapa toh yang cemburu saya kan sudah punya Tati, istri saya
yang jauh lebih cantik dari mbak.” Jawab Ujang sambil tertawa menatap ke
arahku. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala karena sudah terbiasa dengan sikap
konyol si Ob kocak ini.
“Eits
saya Cuma becanda loh Mbak jangan marah ya. Yauda mbak mari saya bawain
berkas-berkasnya.” Ucapnya sambil meraih berkas-berkas di meja yang akan aku
bawa besok ke Jogja.
“Iya
terserah kamu aja deh Jang. Yauda kamu buka mobil saya taruh dibelakang ya Jang.
Terima kasih loh Jang. Nanti saya nyusul ke sana.” Ucapku sembari memberikan
kunci mobil yang langsung diterimanya. Melihat Ujang beranjak dari depanku sambil
membawa berkas-berkas seketika aku kembali menatap Vio.
“Sudah
memberi perintahnya?” Tanya Vio dengan suara yang terdengar lemah.
“Hemm,
belum. Masih ada satu perintah buat kamu!” Ucapku dengan tegas sambil
mengacungkan pulpen pemberian Rizan.
“Apa?
Sepertinya perintah penting?” Tanyanya penasaran sambil melirik pulpen
pemberian Rizan.
“Eh masih
disimpen aja tu pulpen.” Tanyanya lagi seolah melupakan penasarannya tadi
terhadap pertanyaanku.
Aku melirik
ke arah tanganku yang masih menggenggam bolpoint kenangan itu dan menjawab
pertanyaan Vio, “iya, tau lah kamu sejarah pulpen ini.”
Aku
berjalan ke arah meja dan meletakkan bolpoint kenangan itu di atas meja. Vio
mengikutiku ke arah meja. Setelah itu aku kembali menjawab pertanyaan vio, “Terlalu
sulit melupakan dia Vi. Aku masih inget banget kata-kata dia sebelum pergi.
Apalagi banyak hal-hal yang membuat aku berharap. Salah satunya berhubungan
dengan bolpoint ini.”
“Hemm, aku
tau itu memang berat. Hemm yauda tadi ada perintah apa?” Tanyanya mengalihkan
pembicaraan kami tentang bolpoint itu.
“Ikut
aku ke Joytaste yuk. Ketemu sama temen-temen SMA aku. Gak capek kan? Sebentar
aja!! Besok aku kan 2 minggu ke Jogja.” Tanyaku dengan senyuman lebar dan mata
memelas.
“Aku
minta maaf banget Shaina sayang, kayaknya aku gak bisa nemenin kamu. Mama
pengen ketemu sama aku banget. Aku tadi langsung ke sini dari bandara. Tuh
koper masih ada di ruangan papa. Aku ke sini pengen ketemu kamu dan mau ngajak
jalan-jalan besok. Tapi ternyata kamu besok malah ke Jogja 2 minggu.” Ucap vio
dengan sedikit menyesal dengan ketidakbisaannya ikut ke Joytaste sekaligus sedih mendengar rencanaku akan ke
Jogja. Aku hanya bisa diam.
“Sepertinya
sekalian ada misi ya ke Jogja?’ Ucapnya sekali lagi mengalihkan obrolan kami
tadi dengan ekspresi menggoda yang membuatku hanya bisa tersenyum.
“Ada
sih rencana, doain sajalah ya yang terbaik buat aku. Aku juga gak tau vio.
Pokoknya tunggu aku 2 minggu setelah itu kita jalan-jalan ya?ya,ya,ya??” Ujarku
penuh semangat.
Sebelum mendengar jawaban dari vio tentang ajakanku terdengar suara lagu
everything-yang kebetulan lagu
favoritku- yang dinyanyikan Michael Bublé berdering keras dari handphoneku. Ku
lirik ternyata dari Caca dan segera aku angkat. Aku pun mengangkat tangan
menunjuk ke arah Handphone memberikan isyarat ke Vio untuk menjawab panggilan
Caca. Vio pun mengangguk dan mengacungkan kedua tangannya ke depan pertanda
memberikanku kesempatan berbicara di handphone meladeni Caca.
“Hei
Shaina Sucahyo dimana dirimu sayaaang.” Terdengar suara lembut Caca di ujung
telepon sana. Sama sekali tidak terdengar amarah dari suaranya padahal aku
sudah terlambat hampir 1 jam. Begitulah Caca sangat memahami aku. Semarah
apapun ia selalu berusaha tenang. Itulah pribadi yang aku suka dari Caca.
“Ini
gue sudah siap-siap kok Ca. Bentar lagi meluncur ke sana. Kayaknya elo udah gak
sabar banget ya pengen ketemu gue. Hahaha.” Ujarku sambil tertawa.
“Yauda
Na aku pulang aja ya, nanti malem kalau sempet aku telepon.” Sahut Vio yang
langsung melenggang keluar tanpa menunggu persetujuannku dan belum juga
menjawab ajakan jalan-jalanku.
Kujauhkan handphoneku sebentar dari Caca dan meneriakkan satu kata ke Vio”
oke!!”. Setelah itu aku kembali meladeni Caca di telepon. Setelah obrolanku
dengan Caca berakhir aku bergegas beres-beres dan beranjak ke parkiran.
Sepertinya Ujang masih menunggu di sana.
***
Tiba di parkiran ternyata Ujang memang benar masih di sana. Berjongkok
persis di depan mobilku. Aduh si Ujang ini kasihan juga nunggu lama sampai
jongkok begitu, ucapku dalam hati.
“Mbak
kok lama sekali. Saya hampir lumutan loh di sini nunggu Mbak.” Ucap Ujang
berdiri dari posisi jongkoknya disertai dengan wajah memelas ala Ujang.
“Iya
maaf banget ya Jang.” Sahutku dengan
wajah menyesal. Memang kasihan juga si Ujang menungguku cukup lama di sini.
“Iya
gapapa mbak saya tadi Cuma becanda. Mbak kayak gak tau saya aja. Hehehe.” Ucap
Ujang tertawa menampilkan gigi putihnya.
Mendengar
itu aku pun mengatakan,”Iya Jang walau kamu tidak becanda pun saya juga minta
maaf. Kamu lumayan lama kan menunggu di sini. Yauda mana kuncinya Jang?”
Ujang pun menyerahkan kunci mobil ke aku dan aku pun bergegas masuk ke
mobil. Aku buka kaca jendela mobil dan mengucapkan terima kasih sekali lagi ke
ujang yang di jawab olehnya dengan sekali anggukan dan senyuman. Setelah itu
aku pun menyalakan mesin si boy dan siap berangkat ke kafe Joytaste tempat
kongkow favoritku dengan gerombolan si berat sejak SMA dulu.
***
“I’m
coming Caca!!” Teriakku ke arah meja Caca
yang mengagetkan seisi kafe Joytaste. Melihat orang-orang seisi kafe
menoleh ke arahku aku pun bergegas menuju meja Caca dengan tampang sedikit
malu.
“Shainaaa
darling udah lama bgt ya kita gak ketemu hampir 2 bulan!” Ucap Caca yang
langsung memelukku sembari mengecup pipiku. Aku pun membalas mengecup pipinya
sambil melepas pelukannya dan duduk. Setelah duduk aku menegur Bagas dan Faali
yang melihat keakrabanku dan caca.
“Hai
faal,gas! Apa kabar kalian?” Tanyaku ke arah mereka.
“Kalau
ke kalian gak perlu ada kecupan pipi ya. Hehehe.” Tambahku yang kemudian
dibalas dengan senyuman oleh Faali dan Bagas.
“Baik
gue mah na. Ya iyalah gak perlu cipika
cipiki nanti istri gua marah lagi. Iya gak gas. Hahaha.” Tawa Faali yang
diikuti dengan anggukan Bagas.
“Eh
ngomong-ngomong makin feminim aja ya si Shaina ini padahal dulu tuh aneh
banget.“ Sahut Faali kembali dengan
mengedipkan mata jahilnya ke arah Bagas meminta dukungan untuk mengejekku.
“Iya
beda dia sekarang ya jadi lebih plus-plus.” Ujar Bagas ikut-ikutan mengejekku.
Dan aku melirik Caca dengan ekspresi meminta bantuan.
“Eits,
gini-gini Shaina sahabat gue walaupun kata kalian makin cantik kan ya,tapii
tetap cantikan gue kemana-mana hahaha iya kan yang.”Tanya Caca ke arah calon
lakinya. Bukan membantu, Caca malah menambah ejekan ke diriku. Benar-benar ni
si Caca tidak bisa membaca telepati dariku tadi.
“Apa-apaan
coba kalian ini ngeledikin gue. Ini juga Caca bukannya belain malah
membanggakan diri”. Ucapku sambil mengerucutkan bibir dan memasang ekspresi
sedikit marah, ya hanya sedikit.
“Abis
kalo diinget-inget lucu juga dulu si Shaina ini. Polos banget dia dulu ya plus
tingkahnya yang super kocak dan aneh. Selebor pula. Makanya dulu gua pas ketemu
ama dia di kantor klien kaget setengah mati . Bener-bener beda lo Na.” Ucap
Faali dengan pandangan seolah-olah aku ini bukan Shaina teman SMA nya dulu,
melainkan wanita lain yang menurutnya sangat berbeda dengan kepribadianku yang
dulu.
Ya, dulu saat SMA aku memang sangat tidak peduli dengan penampilan.
Selalu selebor dan bertingkah seperti gadis tomboy. Namun karena perasaan itu
aku memutuskan total berubah menjadi wanita yang anggun dan feminim. Ya
perasaan terhadap laki-laki itu. Dulu laki-laki itu selalu menggodaku untuk
berpakaian feminim. Dan bodohnya diriku saat itu, aku selalu menganggap
godaannya pertanda bahwa ia juga memiliki perasaan yang sama denganku. Tetapi
apa yang terjadi dia malah pergi sebelum melihat penampilanku yang berubah menjadi
feminim hingga saat ini. Karena aku merasa nyaman berpenampilan seperti ini
yang membuatku menjadi seorang wanita yang anggun. Wanita anggun itu menurutku
sangat indah dan aku bersyukur dianugerahi jenis kelamin ini.
“Alah
Li kenapa diinget-inget lagi dah itu, tapi emang dulu gue selebor banget tapi
sekarang kan udah feminim nambah cantik dan siap jadi bini orang. Hahaha.”Jawabku
sambil tersenyum diiringi tawa ketiga cecunguk ini yang selalu membuat aku
merasa hidup. Dan tanpa sadar aku pun juga tertawa. Ya hubunganku dengan ketiga
orang ini makin akrab. Kami saling berbagi cerita. Dan pertemuan ini mengingatkanku
pada saat pertemuan terakhir gerombolan si berat di Joytaste. Saat itu perayaan
kecil-kecilan kelulusan kami.
***
Saat
itu tanggal 17 Juli 2010 kafe Joytaste 13.00 waktu setempat
“Jadi
lo bakal kuliah dimana Na.” Tanya Rizan kepadaku
“Gue
juga bingung tapi kayaknya di UI deh Zan. Gue kan gak boleh ke luar kota maklum
anak bungsu plus anak perempuan satu-satunya.
Kalau elo tetep mesti ke Jogja Zan?” Tanyaku pada Rizan dengan ekspresi
berharap ia tetap kuliah di sini.
“Ya
bokap gue maksa buat di Jogja Na biar lulus langsung ngurus perusahaan bokap
yang di sana. Entar gua bakal menghubungi kalian kok tenang aja.” Ucap Rizan
dengan ekspresi meyakinkan.
“Kalo
gua mah mantep di STAN semoga dapet deh ya.” Susul Faali dengan ekspresi
mantap.
“Kalo
gue juga di UI entar kita bareng aja Na. Elo di ekonomi gue di hukum, eh
maksudnya fakultas hukum deh salah kan gue ngomongnya hahaha.” Ujar Caca sambil
tertawa. Yang diikuti suara tawa kami. Kami juga tertawa karena melihat
ekspresi Caca yang sangat lugu mengatakan kata “di hukum” seolah-olah kata itu
mengartikan ia akan dihukum beneran sama satpam atau polisi.
“Tau
deh yang pengen di hukum sama Bagas wuahahaha.” Ucap Faali dengan ekspresi
menggoda yang membuat wajah Caca memerah.
“Ya
pokoknya apapun yang terjadi jangan sampai gerombolan si berat bubar ya bro,sis.
Gua bakal kangen banget candaan kita kayak gini.” Sahut Rizan menghentikan tawa
kami. Yang kulihat dari ekpresi Rizan adalah wajah serius yang seolah-olah
ketakutan akan kehilangan sesuatu.
***
Itulah hal terakhir yang aku ingat dari Rizan. Kalimatnya yang
mengatakan apapun yang terjadi gerombolan si berat tidak boleh bubar. Tapi apa.
Seminggu setelah itu ia menghilang. Bagai ditelan bumi. Cukup kecewa aku dengan
dia. Aku kemana-mana mencari kabar tentangnya tapi nihil. Tapi terakhir yang
kulihat dari cara dia memandangku dulu
aku yakin bahwa ia juga memiliki perasaan yang sama kepadaku. Apalagi kata-kata
ambigu yang pernah ia katakan ke aku. Makanya aku masih menunggu ia sampai saat
ini. Mungkin aku termasuk wanita bodoh yang menunggu laki-laki yang belum jelas
cinta atau tidak sama aku. Tapi sekali lagi aku yakin akan perasaan itu. Sangat
yakin. Kalau memikirkan ini aku jadi ingat lirik lagunya Shandy Sandoro yang
tak pernah padam. Lirik lagu itu persis menggambarkan kondisi hatiku sekarang.
***
“Iya
tapi yang gue heran kok masih aja jomblo ya. “ Suara godaan Bagas membuyarkan
lamunanku tentang kejadian 7 tahun silam tadi.
“Iya ni
padahal kerjaannya kan memeriksa laporan keuangan kok memeriksa hati cowok gak
bisa sih na haha.” Sahut Faali dengan tawa khasnya.
“Ca
liat ni laki lu. Godain gue aja. Faali, elo juga ya dari dulu gak berubah.
Seharusnya kalian kan membantu gue yang jomblo ini.” Ucapku dengan ekspresi kesal
karena selalu jadi bahan lelucon mereka.
“Haha
emang ni si Shaina dari dulu selalu aja nolak cowok yang deketin dia. Jadi
jomblo deh. Sorry Na gue gak bisa bantuin elo kan emang kenyataan. Haha.” Tawa
Caca menggema di meja kami yang membuatku semakin menggerutu kesal karena jadi
bahan godaan ketiga sahabatku ini.
“Oh iya
bro,sis jangan lupa ya 3 minggu lagi ulang tahun istri gua. Pada dateng ya gue
bikin pesta soalnya. Ya siapa tahu juga nanti di sana dapet jodoh Na.” Sahut faali diiringi tawanya yang khas dan lirikan
mata jailnya ke arahku. Di antara kami memang Faali yang sudah menikah. Dia
menikahi adik kelasnya di saat kuliah. Faali menikah tahun lalu dan dia sangat
mencintai istrinya itu. Dan mereka masih seperti orang yang berpacaran karena
memang belum memiliki momongan. Sayang, malam ini Siska-istri Faali- sedang
lembur kerja jadi tidak bisa ikut menemani reunian kecil ini.
“Berarti
pas banget ya pas gue balik dari Jogja. Gue usahain dateng deh. Tapi jangan
jodoh-jodohi gue ya!” Ucapku sambil tersenyum yang diikuti suara caca yang
mengiyakan juga undangan Faali. Saat kami sedang asyik ngobrol bang Joy-pemilik
Joytaste- menghampiri kami dan menghidangkan pesanan kami. Dia memang kenal
baik dengan kami. Ya, kami adalah pelanggan yang paling sering datang ke sini.
“Hai
Shaina makin feminim aja ni ya.” Goda Bang
Joy dengan senyum menggodanya. Walau usianya sudah kepala 4 ketampanan Bang Joy
masih terlihat di wajahnya.
“Eh iya
ni Bang. Udah lama juga ya gue gak ke sini.” Ucapku santai ke arah Bang Joy.
“Eh si
Rizan masih gak ada kabar ya dia?” Tanya Bang Joy.
Mendengar
nama Rizan disebut aku pun tersentak.
“Iya Bang
gak tau tu bocah sekarang dimana.” Jawab Faali.
“Okelah
paling juga gak lama lagi dia nongol. Gua balik ke dapur ya nikmatin dah menu
andalan gue ini.” Ucap Bang Joy santai tanpa menunggu jawaban dari kami dan ia
pun langsung bergegas menuju ke arah belakang.
“Eh gue
juga ijin ke toilet ya. Kebelet ni.” Ujarku sambil meringis menahan hasrat
untuk buang air kecil.
***
Rizan
POV
Hal yang pertama yang aku pikirkan saat tiba di Jakarta tadi pagi adalah
mengunjungi Joytaste. Entah kenapa kafe itu banyak memiliki kenangan saat masa
SMA dulu. Padahal aku baru tidur 4 jam sejak kedatanganku tadi pagi di
Indonesia. Mungkin karena sudah terbiasa naik pesawat membuat aku jadi terbiasa
pula menghadapi yang namanya jetlag. Memang harusnya aku menghubungi
sahabat-sahabatku dulu mengingat hilangnya diriku selama 7 tahun ini. Tetapi
aku belum berani takut mereka akan menyerangku dengan rentetan pertanyaan. Dan
aku belum siap untuk itu. Lebih baik aku ke joytaste dulu menanyakan banyak hal
pada Bang Joy. Pasti Bang Joy tahu tentang keadaan sahabat-sahabatku ini.
Sejak kepergianku dan sekeluarga ke UK 7 tahun silam memang membuat
hubungan komunikasiku dengan semua orang-orang di Indonesia terputus.
Seharusnya aku pulang tahun lalu bersama kedua orang tuaku yang kembali menetap
di Jakarta. Tetapi tahun lalu aku masih menyelesaikan banyak hal yang membuatku
menunggu 1 tahun lagi untuk hari ini. Dan saat ini aku sudah berdiri di depan Joytaste.
Aku penasaran bagaimana tampang Bang Joy saat ini. masihkah tampan seperti 7
tahun lalu. Yang lebih penasaran lagi adalah bagaimana kabar sahabat-sahabatku
ya, apakah mereka akan sangat marah atas kehilanganku 7 tahun ini. Entalah
semoga mereka tidak terlalu marah. Kalaupun marah semoga tidak besar kemarahan
mereka. Aku juga punya alasan kenapa menghilang selama 7 tahun ini. Semangat Rizan,gumamku dalam hati sambil
membuka pintu joytaste.
***
Author POV
“Iya Bu
aku jam 10 pulang kok. Emang mau ngomongin apa? Masalah perjodohan lagi pasti
ni.” Ucap Shaina yang bersandar di dekat wastafel toilet sedang berbicara
dengan ibunya di telepon. Keadaan di toilet memang sedang sepi.
“Pokoknya
kamu harus pulang cepet besok kan kamu mesti ke Jogja juga.” Terdengar suara
ibunya sedikit memaksa menggema di ujung telepon.
“Iya
ibuku sayang. Aku tutup teleponnya ya. Sampai jumpa di rumah.” Ucapnya sekali
lagi sembari menutup telepon. Saat menoleh ia bertabrakan dengan seorang wanita
yang membuat ponselnya terjatuh. Wanita itu pun meminta maaf.
“Maaf
ya Mbak handphonenya jadi jatuh.” Ucap wanita itu dengan nada menyesal.
“tidak
apa-apa ini salah saya. Seharusnya saya yang minta maaf karena asal nabrak mbak
aja. Yauda,permisi ya mbak.” Ucap shaina tersenyum sembari memungut ponselnya
yang tergeletak di lantai. Setelah itu ia pun bergegas masuk ke dalam kafe.
Pasti mereka di sana sudah menunggu, gumamnya dalam hati. Memang ia agak lama
di toilet karena ibunya menelepon. Sebelum itu, ia menelepon Gina dan Nila-kedua
anggota timnya yang juga akan berangkat ke Jogja besok. Setelah melirik jam
tangannya, ia pun tersadar bahwa ia sudah 15 menit di toilet. Tanpa ia sadari
wanita yang menabraknya tadi masih mengamatinya dengan seksama.
***
Rizan
POV
“Rizan?
Ini bener Rizan kan?” Suara Bang Joy membuyarkan lamunanku tentang masa-masa
SMA dulu. Kenangan di Joytaste terlalu sulit untuk dilupakan.
“Bang Joy!
Apa kabar Bang? Iya ini gue.” Ujarku semangat sambil memeluk bang Joy.
“Kemana
aja lo selama ini. Ngilang kayak asep ye. Tapi makin kece aja lo ya sekarang.”Ucap
Bang Joy menyambut pelukan Rizan sambil tertawa senang bertemu dengan
langganannya itu.
“Oh
iya, noh di meja ujung tempat biasa ada gerombolan si berat. Masih inget kan
elo? “ ucap Bang Joy menambahkan sembari melepas pelukan dan menunjuk ke arah
pojok tempat aku biasa dulu nongkrong di kafe ini dengan gerombolan si berat.
“Hah?!
Ada gerombolan si berat. Serius bang?” Aku malah balik bertanya dengan ekspresi
kaget. Aduh kacau kalau ada gerombolan si berat di sini. Aku belum siap ketemu
mereka. Bagaimana ini. aku bingung. Mau tak mau aku harus menghadapi mereka.
Semoga mereka tidak marah berat dengan hilangnya diriku selama 7 tahun ini.
“Iya Zan.”
Jawab Bang Joy tenang diikuti dengan teriakannya.
“Faaliii
ini ada si Rizaaan ni!! Teriak Bang joy ke arah ujung meja tempat aku dan si
gerombolan berat biasa berkumpul.
Faali
pun menoleh dan yang ku tangkap dari ekspresi wajahnya adalah kaget bercampur
senang atau marah,entahlah. Susah ditebak. Aku juga melihat Caca dan Bagas pun
ikutan menoleh ke arahku dengan ekspresi yang sama dengan Faali. Sontak Faali
meloncat ke arahku dan langsung memelukku.
“Kutu
kupret! Kemana aje lo selama ini! kalau gua gak inget elo sohib gue, gue tonjok
elo sekarang juga tau gak!” ujar Faali mengencangkan pelukannya dan berteriak
tepat di sebelah telinga kiriku.
“Rizan!!
Ini bener Rizan?” Suara Caca dan Bagas berbarengan tak kalah kaget dengan
kemunculanku di joytaste ini.
“Sabar
kawan-kawan.” Ucapku sembari melepas pelukan Faali di tubuhku.
“Shaina
mana?” Entah kenapa aku bukannya menjawab pertanyaan mereka malah menanyakan
tentang keberadaan shaina. Karena sepenglihatanku aku tidak melihat sosok
sahabatku yang satu itu. Jujur aku sangat merindukan Shaina. Dia adalah sahabat
terdekatku di antara gerombolan si berat lainnya.
“Gue di
sini.” Terdengar suara wanita yang sangat aku kenal. Dan aku pun menoleh.
Seketika duniaku berhenti melihat sosok yang ada di hadapanku.
***
Shaina POV
Demi Tuhan benarkah apa yang aku lihat di hadapanku ini. Seorang Farizan
Putra Sang Patih. Sahabat yang aku cintai selama 7 tahun ini. Ada apa gerangan
kedatangannya setelah 7 tahun ini menghilang. Apa yang harus aku lakukan.
Kenapa aku merasa salah tingkah begini. Harusnya kan aku marah atas menghilangnya
ia selama 7 tahun ini. Dan sekarang kenapa dia jadi bertambah tampan ya. Yang
ku lihat ia sangat berbeda dengan sosok yang aku cintai 7 tahun lalu. Mungkin
yang sama hanyalah alis tebalnya. Ya, alis tebalnya masih menjadi ciri khas
laki-laki ini. Yang jelas sangat berbeda adalah pria yang ada di hadapanku ini adalah
pria matang yang sangat tampan dan tinggi.
Dengan kemeja hitam yang digulung setengah hingga ke sikunya serta
celana jeans gombrongnya menambah kemaskulinan yang dimiliki pria itu. Tiba-tiba
kesadaranku terhenyak aku tidak boleh bersikap begini. Aku harus tahu apa
sebenarnya tujuannya di sini. Aduh kenapa jantungku jadi berdetak kencang
begini. Ya Tuhan apa yang terjadi padaku.
Shaina fokus, kalau seperti ini kamu akan ketahuan kalau suka sama dia,
gumamku dalam hati.
“Shaina!
Gue kangen banget sama elo.” Ujar Rizan menghampiriku dan langsung memelukku.
Aku pun kaget setengah mati dengan perlakuannya ini kepadaku. Tidak pernah
selama ini Rizan memelukku tetapi kenapa ia jadi begini ya. Semoga dia tidak
merasakan degupan keras jantungku.
“Gue
baik zan.” Ucapku senormal mungkin mengendalikan emosiku yang naik turun sambil
melepas pelukannya. Jujur tadi aku sempat sedikit terlena dengan pelukannya.
“Ehem.
Kayaknya kita juga butuh di tanya deh Zan kabarnya.” Suara Caca yang
mengalihkan pandanganku dari rizan ke arahnya.
“Elo ya
menghilang 7 tahun kemana aja. Tiba-tiba dateng, kita pelukin bukan nanya kabar
kita dulu malah nanyain kabar elo Na. Pertanyaan kita tadi juga belum dijawab
ya. Kayaknya dia Cuma inget Shaina deh Ca.” Ucap Faali ke arah Caca yang
membuatku bertambah “geer” dengan hal itu. Aduh
kenapa aku jadi terkena sindrom “geer” ya,gumamku dalam hati.
“Oke
teman-teman kita bisa duduk? Gua akan jelasin semuanya. Ayo Na!” Ucap rizan meraih
tanganku dan menuntunku ke meja kami. Lagi-lagi aku bertambah berbunga-bunga
dengan perlakuannya ini. Semakin banyak pertanyaan sekarang muncul di kepalaku.
***
“Sorry
guys lama gak ketemu. Mungkin gua cuma bisa bilang maaf banget ke kalian atas
hilangnya gua selama ini. Panjang sebenernya cerita yang mau gua ceritain ke
kalian.” Ucap Rizan dengan wajah tenangnya. Persis seperti dulu yang selalu
jadi penengah jika ada selisih paham dalam kelompok belajar. Aku pun hanya bisa
memandangi wajahnya dengan seksama dan hatiku lagi-lagi berdesir dibuatnya.
“Yauda
ceritain aja Zan. Kita dengerin apa cerita lo. Gue emang marah tapi hilang
begitu saja ketika melihat elo di sini.” Ucapku tak sengaja yang membuat ketiga
temanku yang lain menoleh ke arahku.
“Maksud
gue ceritain juga kenapa elo gak ngehubungin kita dulu pas sampai di Jakarta,
tapi malah ngelenggang kangkung ke Joytaste gitu.” Ucapku menambahkan agar
ketiga temanku tidak curiga dengan kata-kataku tadi. Tapi hal ini tidak berlaku
pada Caca. Caca menatapku seolah memahami isi hatiku.
“Iya
ceritain zan”. Sahut Caca yang mendukung pernyataanku tadi diikuti anggukan
Faali dan Bagas.
Ah Caca, sepertinya ia masih tahu kalau aku belum melupakan Rizan.
Mungkin selama ini ia berbohong kalau ia taunya aku sudah melupakan Rizan.
Mungkin selama ini ia tidak ingin aku mengharapkan Rizan lagi. Tetapi melihat ekpresi Caca tadi
sepertinya ia kembali mengeluarkan dukungannya untukku agar bisa bersatu dengan
Rizan. Semoga,ucapku dalam hati.
“Oke
gue mulai cerita ya. Jadi, seminggu setelah kelulusan gua pergi gak pamitan ke
kalian itu karena gue terburu-buru. Waktu itu tiket udah dibeli dan semua sudah
dipersiapkan sama bokap gua. Kalian tahu kan gimana kerasnya bokap gua itu. Dia
sangat memaksa gua buat ngambil jurusan ekonomi bisnis di UK. Dia bilang
prospeknya lebih bagus ketimbang di Indonesia. Alhasil gua batal kuliah di
Jogja. Ya, sebagai satu-satunya anak lelaki di keluarga dan sebagai penerus
perusahaan mau gak mau gua harus nurutin semua kehendak bokap gua. Gua..” suara
Rizan berhenti seketika mendengar teriakan seorang wanita.
“Fariz.
Kamu aku cariin! Di sini rupanya!” Teriak seorang wanita yang membuat aku,Caca,Faali
dan Bagas menoleh. Setelah aku melihat ke arah wanitu itu sepertinya wajah
wanita itu tidak asing. Dimana ya aku pernah melihat wanita itu. Oh iya aku
ingat itu wanita yang menabrakku tadi di toilet. Siapa wanita ini ya. Kenapa
kenal sama Rizan. Ku lihat ekspresi Rizan juga susah ditebak.
“Maaf ya
Maura bertemu sahabat lama jadi lupa aku mau ngabarin kamu. Lagipula kamu kok
lama di toilet? Ngapain aja?” tanya Rizan ke wanita itu. Dan kenapa Rizan
berkata aku-kamu ke wanita itu. Siapa ya dia. Perasaanku mulai tidak enak.
Wanita
itu tidak menjawab akhirnya terdengar kembali suara Rizan,”Yauda duduk dulu deh
kebetulan aku ketemu sama sahabat-sahabatku. Aku kenalin ya.”
“Teman-teman
ini tunangan gua. Maura Hadiwitama.” Ucap Rizan sekali lagi dengan sambil tersenyum
seolah tidak mendengar detak jantungku yang tiba-tiba berhenti mendengar
pengakuan itu.
“Tunangan??
Teriakan kaget Faali seolah mewakili perasaanku yang kembali membuatku lemas.
Jujur aku tak percaya dengan pengakuan ini, aku pun menoleh ke arah Caca. Caca
yang memahami raut wajahku yang berubah berusaha menenangkanku dengan bahasa telepati
kami. Aku hanya bisa diam memendam kekecewaan hati ini.
“Iya,
saya memang tunangannya. Salam kenal ya semuanya.” Ucap wanita yang bernama Maura
itu dengan senyuman manisnya.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar