Senin, 08 Juli 2013

Kisahku dan Dia (Masih Berharap) Part 2




Part 2

Shaina POV

Seharian berkutat dengan segala hingar bingar pekerjaan sebagai auditor cukup membuatku pusing. Ku lirik jam tanganku dan waktu menunjukkan pukul 20.15. Wah aku sudah terlambat, gumamku dalam hati. Segera aku membereskan berkas-berkas yang akan aku bawa besok ke Jogja. Saat membereskan berkas-berkas ada benda yang tidak asing lagi bagiku, benda  yang selalu mengingatkan aku pada suatu kejadian 7 tahun lalu. Yang mengingatkanku pada sosok bernama Rizan.

***

7 tahun lalu di Kelas XII IPS 3..

“Ngelamunin apa sih Na? Serius amat wajah lo!” Tanya Rizan tiba-tiba mengagetkanku dari lamunan panjangku tentang masa depan.

“Iya ni Zan mikirin elo ni gue hehe.” Jawabku sambil melebarkan senyuman yang mempertontonkan gigi kelinciku ke arah Rizan.

“Ah becanda aja elo ya! Mikirin apa sih Shaina Sucahyo? Udah apapun itu gak usah dipikirin ya.” Ucap Rizan menenangkanku seolah paham dengan apa yang ada di pikiranku saat ini.

“Gue lagi mikirin masa depan ,Zan. Gue bingung mau ngambil kuliah apa.” Ucapku sambil melirik brosur sebuah perguruan tinggi.

“Udah gak usah terlalu dipikirin. Urusan begituan mah gua ni yg laki-laki yg mesti ribet. Gua kan bakal jadi calon kepala keluarga nanti. Jadi gak usah dipikirin ya. Tenang aja elo bakal dapet suami yang tepat kok nanti yang bikin elo gak usah pusing-pusing kerja.” Ujar Rizan dengan wajah tenangnya.
“Ya gak gitu jugalah,gue juga pengen punya karier, Zan. Pengen bahagiain ayah dan ibu gue juga kan Zan. Ya,Setidaknya bisa menunjang suami juga kan nanti. Belum juga lulus SMA omongan kita udah ke pernikahan aja. Hahaha.” Ucapku sambil tertawa.

“Ya harus dari sekarang mah  Na itu dipikirin. Kita kan nanti bakal jadi orang tua. Lagipula tadi juga udah gua bilang gua kan calon kepala keluarga jadi mesti siap-siap dari sekarang.”Ucapnya lagi.

“Hemm. Begitu toh,pusinglah gue. Yang penting sekarang lulus aja dulu deh soal nikah atau kerja nanti juga bakal ketemu sendiri.”Ucapku lagi

“Iya yang penting lulus dulu. Kelamaan ngobrol lupa kan gua mau ngasih ini.” Sahut Rizan sambil menyodorkan sebuah bolpoint. Tampak dari fisiknya bolpoint itu cukup mahal. Dapat dari mana ya dia,ucapku dalam hati.

“Ini dari bokap Na kemaren Beliau baru dari Australia. Gue dikasih ini. Ini buat elo aja. Ya hitung-hitung sebagai tanda semakin erat hubungan persahabatan kita. Hehehe.”Ucap rizan tertawa kecil menjawab pertanyaanku tentang bolpoint itu.

“Serius ini buat gue? Kayaknya mahal ini Zan. Bokap lo bisa marah kalau ini dikasih gue. Tanyaku dengan ekspresi sedikit “tidak enak”. Walaupun aku tahu ayah Rizan tidak akan marah tetap saja aku merasa tidak enak. Begitulah Rizan suka banget ngasih benda-benda ke aku.

“Gak kok. Selow aja sama gue Na. Banyak alasan buat ngasih bolpoint itu ke elo Na. Nanti juga tau alasannya.”Ucap Rizan.

“Apa alasannya?” Tanyaku penasaran.

“Nanti gua kasih tau yang penting sekarang elo terima ya bolpoint itu.” Jawab Rizan sedikit memaksa lagi-lagi dengan senyuman mautnya yang membuatku tak bisa menolak pemberiannya.
 ***
Itulah penggalan perbincangan kami saat itu yang selalu aku ingat hingga detik ini. perbincangan tentang masa depan yang membuatku sekali lagi bertanya-tanya tentang banyak hal. Dari dulu Rizan memang sangat terbuka denganku mengenai banyak hal termasuk tentang masa depan. Tapi ya itu, aku masih belum bisa menebak tentang perasaannya bagaimana ke aku. Rasa penasaran tentang perasaannya pun bertambah dengan belum terungkapnya alasan dia memberikan bolpoint itu ke aku. Sampai sekarang aku masih menunggu untuk semua hal itu.

“Ehem..ehem, lagi ngelamunin apa sih auditor cantik kita yang satu ini?” Terdengar suara laki-laki yang tak asing di telingaku membuyarkan lamunanku tentang kejadian 7 tahun silam. Sambil menggenggam pulpen pemberian Rizan di tangan kiriku, aku menatap ke arah sumber suara.

“Vio!! Kapan balik dari Australia?” Teriakku spontan berlari menuju ke arah Vio dengan masih mengenggam pulpen pemberian Rizan. Vio atau Alvio Adiyatma adalah salah seorang auditor senior di kantor akuntan ini dan merupakan anak sulung Pak Dugi. Ia juga merupakan pewaris kantor akuntan ini kelak. 2 tahun lalu ia cuti karena pergi ke Australia untuk menyelesaikan program masternya. Dan memang, aku cukup dekat dengan dia. Dia sudah aku anggap sebagai abangku sendiri. Selama ini kami berhubungan via internet. Hubungan kami layaknya hubungan adik dan kakak tidak lebih. Vio pun setahuku juga sudah memiliki seorang kekasih walau kadang ia enggan bercerita tentang seputar asmaranya kebanyakan malah ia yang selalu menanyakan kisah asmaraku. Dan hanya Vio -orang di kantorku- yang tahu bahwa aku masih mencintai dan menunggu seorang Rizan hingga 7 tahun ini.

“Hahaha Shaina ini masih seperti yang dulu aja. Aku baru balik tadi sore dan langsung inget kamu,Na.” Ucap Vio diiringi tawa sambil memelukku erat layaknya memeluk seorang adik perempuannya.

“Aku  kangen banget sama kamu Vi!sumpah sudah 2 tahun ya kita gak ketemu. Kalau kamu bilang kan aku bisa  jemput.” Ujarku sambil melepaskan pelukan vio.

“Masa sempet sih seorang Shaina yang sekarang sering jadi ketua tim dan super sibuk ini bisa jemput seorang Alvio? ” goda Vio sambil mencubit pipiku.

“Aduh,kebiasaan banget sih suka nyubit pipi aku!” Ucapku sambil melepas cubitan vio di pipi dengan tangan kananku.

“Haha, masih seperti yang dulu suka ngambek. Serius deh Na aku kangen pengen nyubit pipi kamu. Hehe.” ujar Vio dengan ekspresi menggoda.

“Oh iya besok kamu ke Jogja kan Na? Tadi Papa bilang ke aku.“ ucap Vio sekali lagi dengan senyuman mautnya yang menampilkan lesung pipit di  kedua belah pipinya.

“Iya besok mau ke Jogja mau audit perusahaan ituloh yang anak perusahaannya banyak di sini.” Jawabku masih dengan wajah yang sedikit jengkel.

“Ehem ehem udah Mbak kangen-kangenannya?? Terdengar suara Ujang-OB kantor- menghentikan obrolanku dengan Vio. Kami pun menoleh.

“Aduh Ujang, kamu ini mengganggu kegiatan kangen-kangenan kami aja.” Ujar Vio sambil meraih pundakku dan memelukku dari samping yang membuat kami berdiri berdampingan. Aku pun menatapnya dengan tatapan yang seolah berkata “ngapain coba kita begini, mau nyebar gosip lagi?”. Karena dari dulu orang kantor tahunya aku dan vio ada hubungan “apa-apa”. Namun, sejak Vio bercerita telah punya kekasih ke seisi kantor isu itu pun kandas berganti dengan isu lain.

“Aduh saya beneran ganggu ni ya mbak,mas. Saya sih cuma ikut perintah aja tadi kata mbak Gina saya dipanggil mbak Shaina. Gitu. Yauda saya balik aja deh ke pantry.” Ucap Ujang dengan wajah memelas yang dibuat-buat.

“Jadi kamu cemburu ni Jang sama saya.” Jawab Vio asal sambil tertawa kecil.

“Aduh makin ngaco aja kalian. Ujang kamu bercanda sama saya ya sampai ngambek begitu? Saya emang tadi nyuruh Gina buat manggil kamu ke sini. Saya mah sama si Vio ini gak perlu kangen-kangenan. Kan saya juga gak kangen sama dia.” Ucapku asal sambil mencibirkan bibirku ke arah vio dan melepas tangannya dari pundakku. Vio pun menatapku dengan tatapan yang tak bisa ditebak. Aku pun mengisyaratkan dia untuk diam. Ia pun hanya mengangguk lemah.

“Ini Jang tolong bawain berkas-berkas saya ke mobil ya.” Ucapku lagi sambil menunjuk ke arah tumpukan berkas yang siap diangkat.

“Haha Mbak Shaina lagipula siapa toh yang cemburu saya kan sudah punya Tati, istri saya yang jauh lebih cantik dari mbak.” Jawab Ujang sambil tertawa menatap ke arahku. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala karena sudah terbiasa dengan sikap konyol si Ob kocak ini.
“Eits saya Cuma becanda loh Mbak jangan marah ya. Yauda mbak mari saya bawain berkas-berkasnya.” Ucapnya sambil meraih berkas-berkas di meja yang akan aku bawa besok ke Jogja.

“Iya terserah kamu aja deh Jang. Yauda kamu buka mobil saya taruh dibelakang ya Jang. Terima kasih loh Jang. Nanti saya nyusul ke sana.” Ucapku sembari memberikan kunci mobil  yang langsung diterimanya.  Melihat Ujang beranjak dari depanku sambil membawa berkas-berkas seketika aku kembali menatap Vio.

“Sudah memberi perintahnya?” Tanya Vio dengan suara yang terdengar lemah.

“Hemm, belum. Masih ada satu perintah buat kamu!” Ucapku dengan tegas sambil mengacungkan pulpen pemberian Rizan.

“Apa? Sepertinya perintah penting?” Tanyanya penasaran sambil melirik pulpen pemberian Rizan.

“Eh masih disimpen aja tu pulpen.” Tanyanya lagi seolah melupakan penasarannya tadi terhadap pertanyaanku.

Aku melirik ke arah tanganku yang masih menggenggam bolpoint kenangan itu dan menjawab pertanyaan Vio, “iya, tau lah kamu sejarah pulpen ini.”

Aku berjalan ke arah meja dan meletakkan bolpoint kenangan itu di atas meja. Vio mengikutiku ke arah meja. Setelah itu aku kembali menjawab pertanyaan vio, “Terlalu sulit melupakan dia Vi. Aku masih inget banget kata-kata dia sebelum pergi. Apalagi banyak hal-hal yang membuat aku berharap. Salah satunya berhubungan dengan bolpoint ini.”

“Hemm, aku tau itu memang berat. Hemm yauda tadi ada perintah apa?” Tanyanya mengalihkan pembicaraan kami tentang bolpoint itu.

“Ikut aku ke Joytaste yuk. Ketemu sama temen-temen SMA aku. Gak capek kan? Sebentar aja!! Besok aku kan 2 minggu ke Jogja.” Tanyaku dengan senyuman lebar dan mata memelas.

“Aku minta maaf banget Shaina sayang, kayaknya aku gak bisa nemenin kamu. Mama pengen ketemu sama aku banget. Aku tadi langsung ke sini dari bandara. Tuh koper masih ada di ruangan papa. Aku ke sini pengen ketemu kamu dan mau ngajak jalan-jalan besok. Tapi ternyata kamu besok malah ke Jogja 2 minggu.” Ucap vio dengan sedikit menyesal dengan ketidakbisaannya ikut ke Joytaste  sekaligus sedih mendengar rencanaku akan ke Jogja. Aku hanya bisa diam.

“Sepertinya sekalian ada misi ya ke Jogja?’ Ucapnya sekali lagi mengalihkan obrolan kami tadi dengan ekspresi menggoda yang membuatku hanya bisa tersenyum.

“Ada sih rencana, doain sajalah ya yang terbaik buat aku. Aku juga gak tau vio. Pokoknya tunggu aku 2 minggu setelah itu kita jalan-jalan ya?ya,ya,ya??” Ujarku penuh semangat.   

Sebelum mendengar jawaban dari vio tentang ajakanku terdengar suara lagu everything-yang kebetulan lagu favoritku- yang dinyanyikan Michael Bublé berdering keras dari handphoneku. Ku lirik ternyata dari Caca dan segera aku angkat. Aku pun mengangkat tangan menunjuk ke arah Handphone memberikan isyarat ke Vio untuk menjawab panggilan Caca. Vio pun mengangguk dan mengacungkan kedua tangannya ke depan pertanda memberikanku kesempatan berbicara di handphone meladeni Caca.

“Hei Shaina Sucahyo dimana dirimu sayaaang.” Terdengar suara lembut Caca di ujung telepon sana. Sama sekali tidak terdengar amarah dari suaranya padahal aku sudah terlambat hampir 1 jam. Begitulah Caca sangat memahami aku. Semarah apapun ia selalu berusaha tenang. Itulah pribadi yang aku suka dari Caca.

“Ini gue sudah siap-siap kok Ca. Bentar lagi meluncur ke sana. Kayaknya elo udah gak sabar banget ya pengen ketemu gue. Hahaha.” Ujarku sambil tertawa.
“Yauda Na aku pulang aja ya, nanti malem kalau sempet aku telepon.” Sahut Vio yang langsung melenggang keluar tanpa menunggu persetujuannku dan belum juga menjawab ajakan jalan-jalanku.

Kujauhkan handphoneku sebentar dari Caca dan meneriakkan satu kata ke Vio” oke!!”. Setelah itu aku  kembali  meladeni Caca di telepon. Setelah obrolanku dengan Caca berakhir aku bergegas beres-beres dan beranjak ke parkiran. Sepertinya Ujang masih menunggu di sana.
***
Tiba di parkiran ternyata Ujang memang benar masih di sana. Berjongkok persis di depan mobilku. Aduh si Ujang ini kasihan juga nunggu lama sampai jongkok begitu, ucapku dalam hati.

“Mbak kok lama sekali. Saya hampir lumutan loh di sini nunggu Mbak.” Ucap Ujang berdiri dari posisi jongkoknya disertai dengan wajah memelas ala Ujang.

“Iya maaf  banget ya Jang.” Sahutku dengan wajah menyesal. Memang kasihan juga si Ujang menungguku cukup lama di sini.

“Iya gapapa mbak saya tadi Cuma becanda. Mbak kayak gak tau saya aja. Hehehe.” Ucap Ujang tertawa menampilkan gigi putihnya.

Mendengar itu aku pun mengatakan,”Iya Jang walau kamu tidak becanda pun saya juga minta maaf. Kamu lumayan lama kan menunggu di sini. Yauda mana kuncinya Jang?”

Ujang pun menyerahkan kunci mobil ke aku dan aku pun bergegas masuk ke mobil. Aku buka kaca jendela mobil dan mengucapkan terima kasih sekali lagi ke ujang yang di jawab olehnya dengan sekali anggukan dan senyuman. Setelah itu aku pun menyalakan mesin si boy dan siap berangkat ke kafe Joytaste tempat kongkow favoritku dengan gerombolan si berat sejak SMA dulu.
***

“I’m coming Caca!!” Teriakku ke arah meja Caca  yang mengagetkan seisi kafe Joytaste. Melihat orang-orang seisi kafe menoleh ke arahku aku pun bergegas menuju meja Caca dengan tampang sedikit malu.

“Shainaaa darling udah lama bgt ya kita gak ketemu hampir 2 bulan!” Ucap Caca yang langsung memelukku sembari mengecup pipiku. Aku pun membalas mengecup pipinya sambil melepas pelukannya dan duduk. Setelah duduk aku menegur Bagas dan Faali yang melihat keakrabanku dan caca.

“Hai faal,gas! Apa kabar kalian?” Tanyaku ke arah mereka.

“Kalau ke kalian gak perlu ada kecupan pipi ya. Hehehe.” Tambahku yang kemudian dibalas dengan senyuman oleh Faali dan Bagas.

“Baik gue mah na.  Ya iyalah gak perlu cipika cipiki nanti istri gua marah lagi. Iya gak gas. Hahaha.” Tawa Faali yang diikuti dengan anggukan Bagas.

“Eh ngomong-ngomong makin feminim aja ya si Shaina ini padahal dulu tuh aneh banget.“ Sahut  Faali kembali dengan mengedipkan mata jahilnya ke arah Bagas meminta dukungan untuk mengejekku.

“Iya beda dia sekarang ya jadi lebih plus-plus.” Ujar Bagas ikut-ikutan mengejekku. Dan aku melirik Caca dengan ekspresi meminta bantuan.

“Eits, gini-gini Shaina sahabat gue walaupun kata kalian makin cantik kan ya,tapii tetap cantikan gue kemana-mana hahaha iya kan yang.”Tanya Caca ke arah calon lakinya. Bukan membantu, Caca malah menambah ejekan ke diriku. Benar-benar ni si Caca tidak bisa membaca telepati dariku tadi.

“Apa-apaan coba kalian ini ngeledikin gue. Ini juga Caca bukannya belain malah membanggakan diri”. Ucapku sambil mengerucutkan bibir dan memasang ekspresi sedikit marah, ya hanya sedikit.

“Abis kalo diinget-inget lucu juga dulu si Shaina ini. Polos banget dia dulu ya plus tingkahnya yang super kocak dan aneh. Selebor pula. Makanya dulu gua pas ketemu ama dia di kantor klien kaget setengah mati . Bener-bener beda lo Na.” Ucap Faali dengan pandangan seolah-olah aku ini bukan Shaina teman SMA nya dulu, melainkan wanita lain yang menurutnya sangat berbeda dengan kepribadianku yang dulu.
Ya, dulu saat SMA aku memang sangat tidak peduli dengan penampilan. Selalu selebor dan bertingkah seperti gadis tomboy. Namun karena perasaan itu aku memutuskan total berubah menjadi wanita yang anggun dan feminim. Ya perasaan terhadap laki-laki itu. Dulu laki-laki itu selalu menggodaku untuk berpakaian feminim. Dan bodohnya diriku saat itu, aku selalu menganggap godaannya pertanda bahwa ia juga memiliki perasaan yang sama denganku. Tetapi apa yang terjadi dia malah pergi sebelum melihat penampilanku yang berubah menjadi feminim hingga saat ini. Karena aku merasa nyaman berpenampilan seperti ini yang membuatku menjadi seorang wanita yang anggun. Wanita anggun itu menurutku sangat indah dan aku bersyukur dianugerahi jenis kelamin ini.

“Alah Li kenapa diinget-inget lagi dah itu, tapi emang dulu gue selebor banget tapi sekarang kan udah feminim nambah cantik dan siap jadi bini orang. Hahaha.”Jawabku sambil tersenyum diiringi tawa ketiga cecunguk ini yang selalu membuat aku merasa hidup. Dan tanpa sadar aku pun juga tertawa. Ya hubunganku dengan ketiga orang ini makin akrab. Kami saling berbagi cerita. Dan pertemuan ini mengingatkanku pada saat pertemuan terakhir gerombolan si berat di Joytaste. Saat itu perayaan kecil-kecilan kelulusan kami.

***

Saat itu tanggal 17 Juli 2010 kafe Joytaste 13.00 waktu setempat

“Jadi lo bakal kuliah dimana Na.” Tanya Rizan kepadaku

“Gue juga bingung tapi kayaknya di UI deh Zan. Gue kan gak boleh ke luar kota maklum anak bungsu plus anak perempuan satu-satunya.  Kalau elo tetep mesti ke Jogja Zan?” Tanyaku pada Rizan dengan ekspresi berharap ia tetap kuliah di sini.

“Ya bokap gue maksa buat di Jogja Na biar lulus langsung ngurus perusahaan bokap yang di sana. Entar gua bakal menghubungi kalian kok tenang aja.” Ucap Rizan dengan ekspresi meyakinkan.

“Kalo gua mah mantep di STAN semoga dapet deh ya.” Susul Faali dengan ekspresi mantap.
“Kalo gue juga di UI entar kita bareng aja Na. Elo di ekonomi gue di hukum, eh maksudnya fakultas hukum deh salah kan gue ngomongnya hahaha.” Ujar Caca sambil tertawa. Yang diikuti suara tawa kami. Kami juga tertawa karena melihat ekspresi Caca yang sangat lugu mengatakan kata “di hukum” seolah-olah kata itu mengartikan ia akan dihukum beneran sama satpam atau polisi.

“Tau deh yang pengen di hukum sama Bagas wuahahaha.” Ucap Faali dengan ekspresi menggoda yang membuat wajah Caca memerah.

“Ya pokoknya apapun yang terjadi jangan sampai gerombolan si berat bubar ya bro,sis. Gua bakal kangen banget candaan kita kayak gini.” Sahut Rizan menghentikan tawa kami. Yang kulihat dari ekpresi Rizan adalah wajah serius yang seolah-olah ketakutan akan kehilangan sesuatu.
***

Itulah hal terakhir yang aku ingat dari Rizan. Kalimatnya yang mengatakan apapun yang terjadi gerombolan si berat tidak boleh bubar. Tapi apa. Seminggu setelah itu ia menghilang. Bagai ditelan bumi. Cukup kecewa aku dengan dia. Aku kemana-mana mencari kabar tentangnya tapi nihil. Tapi terakhir yang kulihat dari  cara dia memandangku dulu aku yakin bahwa ia juga memiliki perasaan yang sama kepadaku. Apalagi kata-kata ambigu yang pernah ia katakan ke aku. Makanya aku masih menunggu ia sampai saat ini. Mungkin aku termasuk wanita bodoh yang menunggu laki-laki yang belum jelas cinta atau tidak sama aku. Tapi sekali lagi aku yakin akan perasaan itu. Sangat yakin. Kalau memikirkan ini aku jadi ingat lirik lagunya Shandy Sandoro yang tak pernah padam. Lirik lagu itu persis menggambarkan kondisi hatiku sekarang.

***

“Iya tapi yang gue heran kok masih aja jomblo ya. “ Suara godaan Bagas membuyarkan lamunanku tentang kejadian 7 tahun silam tadi.

“Iya ni padahal kerjaannya kan memeriksa laporan keuangan kok memeriksa hati cowok gak bisa sih na haha.” Sahut Faali dengan tawa khasnya.

“Ca liat ni laki lu. Godain gue aja. Faali, elo juga ya dari dulu gak berubah. Seharusnya kalian kan membantu gue yang jomblo ini.” Ucapku dengan ekspresi kesal karena selalu jadi bahan lelucon mereka.

“Haha emang ni si Shaina dari dulu selalu aja nolak cowok yang deketin dia. Jadi jomblo deh. Sorry Na gue gak bisa bantuin elo kan emang kenyataan. Haha.” Tawa Caca menggema di meja kami yang membuatku semakin menggerutu kesal karena jadi bahan godaan ketiga sahabatku ini.

“Oh iya bro,sis jangan lupa ya 3 minggu lagi ulang tahun istri gua. Pada dateng ya gue bikin pesta soalnya. Ya siapa tahu juga nanti di sana dapet jodoh Na.”  Sahut  faali diiringi tawanya yang khas dan lirikan mata jailnya ke arahku. Di antara kami memang Faali yang sudah menikah. Dia menikahi adik kelasnya di saat kuliah. Faali menikah tahun lalu dan dia sangat mencintai istrinya itu. Dan mereka masih seperti orang yang berpacaran karena memang belum memiliki momongan. Sayang, malam ini Siska-istri Faali- sedang lembur kerja jadi tidak bisa ikut menemani reunian kecil ini.

“Berarti pas banget ya pas gue balik dari Jogja. Gue usahain dateng deh. Tapi jangan jodoh-jodohi gue ya!” Ucapku sambil tersenyum yang diikuti suara caca yang mengiyakan juga undangan Faali. Saat kami sedang asyik ngobrol bang Joy-pemilik Joytaste- menghampiri kami dan menghidangkan pesanan kami. Dia memang kenal baik dengan kami. Ya, kami adalah pelanggan yang paling sering datang ke sini.

“Hai Shaina makin feminim aja ni ya.” Goda  Bang Joy dengan senyum menggodanya. Walau usianya sudah kepala 4 ketampanan Bang Joy masih terlihat di wajahnya.

“Eh iya ni Bang. Udah lama juga ya gue gak ke sini.” Ucapku santai ke arah Bang Joy.

“Eh si Rizan masih gak ada kabar ya dia?” Tanya Bang Joy.

Mendengar nama Rizan disebut aku pun tersentak.

“Iya Bang gak tau tu bocah sekarang dimana.” Jawab Faali.

“Okelah paling juga gak lama lagi dia nongol. Gua balik ke dapur ya nikmatin dah menu andalan gue ini.” Ucap Bang Joy santai tanpa menunggu jawaban dari kami dan ia pun langsung bergegas menuju ke arah belakang.

“Eh gue juga ijin ke toilet ya. Kebelet ni.” Ujarku sambil meringis menahan hasrat untuk buang air kecil.

***
Rizan POV

Hal yang pertama yang aku pikirkan saat tiba di Jakarta tadi pagi adalah mengunjungi Joytaste. Entah kenapa kafe itu banyak memiliki kenangan saat masa SMA dulu. Padahal aku baru tidur 4 jam sejak kedatanganku tadi pagi di Indonesia. Mungkin karena sudah terbiasa naik pesawat membuat aku jadi terbiasa pula menghadapi yang namanya jetlag. Memang harusnya aku menghubungi sahabat-sahabatku dulu mengingat hilangnya diriku selama 7 tahun ini. Tetapi aku belum berani takut mereka akan menyerangku dengan rentetan pertanyaan. Dan aku belum siap untuk itu. Lebih baik aku ke joytaste dulu menanyakan banyak hal pada Bang Joy. Pasti Bang Joy tahu tentang keadaan sahabat-sahabatku ini.
Sejak kepergianku dan sekeluarga ke UK 7 tahun silam memang membuat hubungan komunikasiku dengan semua orang-orang di Indonesia terputus. Seharusnya aku pulang tahun lalu bersama kedua orang tuaku yang kembali menetap di Jakarta. Tetapi tahun lalu aku masih menyelesaikan banyak hal yang membuatku menunggu 1 tahun lagi untuk hari ini. Dan saat ini aku sudah berdiri di depan Joytaste. Aku penasaran bagaimana tampang Bang Joy saat ini. masihkah tampan seperti 7 tahun lalu. Yang lebih penasaran lagi adalah bagaimana kabar sahabat-sahabatku ya, apakah mereka akan sangat marah atas kehilanganku 7 tahun ini. Entalah semoga mereka tidak terlalu marah. Kalaupun marah semoga tidak besar kemarahan mereka. Aku juga punya alasan kenapa menghilang selama 7 tahun ini. Semangat Rizan,gumamku dalam hati sambil membuka pintu joytaste.

***


Author POV

“Iya Bu aku jam 10 pulang kok. Emang mau ngomongin apa? Masalah perjodohan lagi pasti ni.” Ucap Shaina yang bersandar di dekat wastafel toilet sedang berbicara dengan ibunya di telepon. Keadaan di toilet memang sedang sepi.

“Pokoknya kamu harus pulang cepet besok kan kamu mesti ke Jogja juga.” Terdengar suara ibunya sedikit memaksa menggema di ujung telepon.

“Iya ibuku sayang. Aku tutup teleponnya ya. Sampai jumpa di rumah.” Ucapnya sekali lagi sembari menutup telepon. Saat menoleh ia bertabrakan dengan seorang wanita yang membuat ponselnya terjatuh. Wanita itu pun meminta maaf.

“Maaf ya Mbak handphonenya jadi jatuh.” Ucap wanita itu dengan nada menyesal.

“tidak apa-apa ini salah saya. Seharusnya saya yang minta maaf karena asal nabrak mbak aja. Yauda,permisi ya mbak.” Ucap shaina tersenyum sembari memungut ponselnya yang tergeletak di lantai. Setelah itu ia pun bergegas masuk ke dalam kafe. Pasti mereka di sana sudah menunggu, gumamnya dalam hati. Memang ia agak lama di toilet karena ibunya menelepon. Sebelum itu, ia menelepon Gina dan Nila-kedua anggota timnya yang juga akan berangkat ke Jogja besok. Setelah melirik jam tangannya, ia pun tersadar bahwa ia sudah 15 menit di toilet. Tanpa ia sadari wanita yang menabraknya tadi masih mengamatinya dengan seksama.
***

Rizan POV

“Rizan? Ini bener Rizan kan?” Suara Bang Joy membuyarkan lamunanku tentang masa-masa SMA dulu. Kenangan di Joytaste terlalu sulit untuk dilupakan.

“Bang Joy! Apa kabar Bang? Iya ini gue.” Ujarku semangat sambil memeluk bang Joy.

“Kemana aja lo selama ini. Ngilang kayak asep ye. Tapi makin kece aja lo ya sekarang.”Ucap Bang Joy menyambut pelukan Rizan sambil tertawa senang bertemu dengan langganannya itu.

“Oh iya, noh di meja ujung tempat biasa ada gerombolan si berat. Masih inget kan elo? “ ucap Bang Joy menambahkan sembari melepas pelukan dan menunjuk ke arah pojok tempat aku biasa dulu nongkrong di kafe ini dengan gerombolan si berat.

“Hah?! Ada gerombolan si berat. Serius bang?” Aku malah balik bertanya dengan ekspresi kaget. Aduh kacau kalau ada gerombolan si berat di sini. Aku belum siap ketemu mereka. Bagaimana ini. aku bingung. Mau tak mau aku harus menghadapi mereka. Semoga mereka tidak marah berat dengan hilangnya diriku selama 7 tahun ini.

“Iya Zan.” Jawab Bang Joy tenang diikuti dengan teriakannya.

“Faaliii ini ada si Rizaaan ni!! Teriak Bang joy ke arah ujung meja tempat aku dan si gerombolan berat biasa berkumpul.

Faali pun menoleh dan yang ku tangkap dari ekspresi wajahnya adalah kaget bercampur senang atau marah,entahlah. Susah ditebak. Aku juga melihat Caca dan Bagas pun ikutan menoleh ke arahku dengan ekspresi yang sama dengan Faali. Sontak Faali meloncat ke arahku dan langsung memelukku.

“Kutu kupret! Kemana aje lo selama ini! kalau gua gak inget elo sohib gue, gue tonjok elo sekarang juga tau gak!” ujar Faali mengencangkan pelukannya dan berteriak tepat di sebelah telinga kiriku.

“Rizan!! Ini bener Rizan?” Suara Caca dan Bagas berbarengan tak kalah kaget dengan kemunculanku di joytaste ini.

“Sabar kawan-kawan.” Ucapku sembari melepas pelukan Faali di tubuhku.

“Shaina mana?” Entah kenapa aku bukannya menjawab pertanyaan mereka malah menanyakan tentang keberadaan shaina. Karena sepenglihatanku aku tidak melihat sosok sahabatku yang satu itu. Jujur aku sangat merindukan Shaina. Dia adalah sahabat terdekatku di antara gerombolan si berat lainnya.

“Gue di sini.” Terdengar suara wanita yang sangat aku kenal. Dan aku pun menoleh. Seketika duniaku berhenti melihat sosok yang ada di hadapanku.

***

Shaina POV

Demi Tuhan benarkah apa yang aku lihat di hadapanku ini. Seorang Farizan Putra Sang Patih. Sahabat yang aku cintai selama 7 tahun ini. Ada apa gerangan kedatangannya setelah 7 tahun ini menghilang. Apa yang harus aku lakukan. Kenapa aku merasa salah tingkah begini. Harusnya kan aku marah atas menghilangnya ia selama 7 tahun ini. Dan sekarang kenapa dia jadi bertambah tampan ya. Yang ku lihat ia sangat berbeda dengan sosok yang aku cintai 7 tahun lalu. Mungkin yang sama hanyalah alis tebalnya. Ya, alis tebalnya masih menjadi ciri khas laki-laki ini. Yang jelas sangat berbeda adalah pria yang ada di hadapanku ini adalah pria matang yang sangat tampan dan tinggi.
Dengan kemeja hitam yang digulung setengah hingga ke sikunya serta celana jeans gombrongnya menambah kemaskulinan yang dimiliki pria itu. Tiba-tiba kesadaranku terhenyak aku tidak boleh bersikap begini. Aku harus tahu apa sebenarnya tujuannya di sini. Aduh kenapa jantungku jadi berdetak kencang begini. Ya Tuhan apa yang terjadi padaku. Shaina fokus, kalau seperti ini kamu akan ketahuan kalau suka sama dia, gumamku dalam hati.

“Shaina! Gue kangen banget sama elo.” Ujar Rizan menghampiriku dan langsung memelukku. Aku pun kaget setengah mati dengan perlakuannya ini kepadaku. Tidak pernah selama ini Rizan memelukku tetapi kenapa ia jadi begini ya. Semoga dia tidak merasakan degupan keras jantungku.

“Gue baik zan.” Ucapku senormal mungkin mengendalikan emosiku yang naik turun sambil melepas pelukannya. Jujur tadi aku sempat sedikit terlena dengan pelukannya.

“Ehem. Kayaknya kita juga butuh di tanya deh Zan kabarnya.” Suara Caca yang mengalihkan pandanganku dari rizan ke arahnya.

“Elo ya menghilang 7 tahun kemana aja. Tiba-tiba dateng, kita pelukin bukan nanya kabar kita dulu malah nanyain kabar elo Na. Pertanyaan kita tadi juga belum dijawab ya. Kayaknya dia Cuma inget Shaina deh Ca.” Ucap Faali ke arah Caca yang membuatku bertambah “geer” dengan hal itu. Aduh kenapa aku jadi terkena sindrom “geer” ya,gumamku dalam hati.

“Oke teman-teman kita bisa duduk? Gua akan jelasin semuanya. Ayo Na!” Ucap rizan meraih tanganku dan menuntunku ke meja kami. Lagi-lagi aku bertambah berbunga-bunga dengan perlakuannya ini. Semakin banyak pertanyaan sekarang muncul di kepalaku.

***

“Sorry guys lama gak ketemu. Mungkin gua cuma bisa bilang maaf banget ke kalian atas hilangnya gua selama ini. Panjang sebenernya cerita yang mau gua ceritain ke kalian.” Ucap Rizan dengan wajah tenangnya. Persis seperti dulu yang selalu jadi penengah jika ada selisih paham dalam kelompok belajar. Aku pun hanya bisa memandangi wajahnya dengan seksama dan hatiku lagi-lagi berdesir dibuatnya.

“Yauda ceritain aja Zan. Kita dengerin apa cerita lo. Gue emang marah tapi hilang begitu saja ketika melihat elo di sini.” Ucapku tak sengaja yang membuat ketiga temanku yang lain menoleh ke arahku.

“Maksud gue ceritain juga kenapa elo gak ngehubungin kita dulu pas sampai di Jakarta, tapi malah ngelenggang kangkung ke Joytaste gitu.” Ucapku menambahkan agar ketiga temanku tidak curiga dengan kata-kataku tadi. Tapi hal ini tidak berlaku pada Caca. Caca menatapku seolah memahami isi hatiku.

“Iya ceritain zan”. Sahut Caca yang mendukung pernyataanku tadi diikuti anggukan Faali dan Bagas.

Ah Caca, sepertinya ia masih tahu kalau aku belum melupakan Rizan. Mungkin selama ini ia berbohong kalau ia taunya aku sudah melupakan Rizan. Mungkin selama ini ia tidak ingin aku mengharapkan  Rizan lagi. Tetapi melihat ekpresi Caca tadi sepertinya ia kembali mengeluarkan dukungannya untukku agar bisa bersatu dengan Rizan. Semoga,ucapku dalam hati.

“Oke gue mulai cerita ya. Jadi, seminggu setelah kelulusan gua pergi gak pamitan ke kalian itu karena gue terburu-buru. Waktu itu tiket udah dibeli dan semua sudah dipersiapkan sama bokap gua. Kalian tahu kan gimana kerasnya bokap gua itu. Dia sangat memaksa gua buat ngambil jurusan ekonomi bisnis di UK. Dia bilang prospeknya lebih bagus ketimbang di Indonesia. Alhasil gua batal kuliah di Jogja. Ya, sebagai satu-satunya anak lelaki di keluarga dan sebagai penerus perusahaan mau gak mau gua harus nurutin semua kehendak bokap gua. Gua..” suara Rizan berhenti seketika mendengar teriakan seorang wanita.

“Fariz. Kamu aku cariin! Di sini rupanya!” Teriak seorang wanita yang membuat aku,Caca,Faali dan Bagas menoleh. Setelah aku melihat ke arah wanitu itu sepertinya wajah wanita itu tidak asing. Dimana ya aku pernah melihat wanita itu. Oh iya aku ingat itu wanita yang menabrakku tadi di toilet. Siapa wanita ini ya. Kenapa kenal sama Rizan. Ku lihat ekspresi Rizan juga susah ditebak.

“Maaf ya Maura bertemu sahabat lama jadi lupa aku mau ngabarin kamu. Lagipula kamu kok lama di toilet? Ngapain aja?” tanya Rizan ke wanita itu. Dan kenapa Rizan berkata aku-kamu ke wanita itu. Siapa ya dia. Perasaanku mulai tidak enak.

Wanita itu tidak menjawab akhirnya terdengar kembali suara Rizan,”Yauda duduk dulu deh kebetulan aku ketemu sama sahabat-sahabatku. Aku kenalin ya.”

“Teman-teman ini tunangan gua. Maura Hadiwitama.” Ucap Rizan sekali lagi dengan sambil tersenyum seolah tidak mendengar detak jantungku yang tiba-tiba berhenti mendengar pengakuan itu.

“Tunangan?? Teriakan kaget Faali seolah mewakili perasaanku yang kembali membuatku lemas. Jujur aku tak percaya dengan pengakuan ini, aku pun menoleh ke arah Caca. Caca yang memahami raut wajahku yang berubah berusaha menenangkanku dengan bahasa telepati kami. Aku hanya bisa diam memendam kekecewaan hati ini.

“Iya, saya memang tunangannya. Salam kenal ya semuanya.” Ucap wanita yang bernama Maura itu dengan senyuman manisnya.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar