Seandainya hati seseorang dapat dianalisis
atau diperiksa layaknya menganalisis dan memeriksa laporan keuangan mungkin aku
dapat mengetahui bagaimana perasaan seorang Rizan terhadapku. Aku tak mengerti
apa arti cinta yang sesungguhnya. Apakah cinta yang ku miliki ini hanya menjadi
cinta yang tak terbalas. Aku tahu bahwa yang namanya cinta tak harus selalu
memiliki. Cinta dapat dipertahankan dengan sebuah keyakinan bahwa cinta yang
terpendam itu hanya menjadi cinta yang murni tanpa ada sebuah ikatan. Dapat
dikatakan cinta tersebut adalah cinta dalam diam.
“Kamu kenapa baru pulang? Gak seperti
biasanya kamu pulang diam seperti ini, biasanya selalu mengucap salam sambil
teriak-teriak. Katanya besok ke Jogja? Itu kenapa pintunya tidak ditutup kenapa
kamu Cuma memegang gagangnya saja?” Suara rentetan ibu terdengar tepat di belakangku
dan sukses menghentikan lamunanku. Aku berbalik dan langsung menatap mata
ibuku. Aku butuh pelukan.
“Kamu kenapa kok malah jadi nangis?” Tanya
ibuku kebingungan karena aku bukannya menjawab pertanyaannya malah langsung
menghambur ke pelukannya.
“Gak apa-apa, Bu. Aku lagi sedih saja.
memikirkan sampai sekarang aku belum bisa membahagiakan ibu dan ayah.” Jawabku
dengan suara serak karena kebanyakan menangis.
“Kamu ini kenapa kok jadi aneh begini. Bagi
ibu kamu sudah ada di dekat ibu dan ayah saja sudah membuat ibu dan ayah
bahagia, Nak. Kalau kamu ada masalah ceritakan kepada kami.” Ucap ibuku tenang
seolah-olah menenangkan hatiku yang sedang kalut.
“Tidak ada, Bu. Mungkin aku hanya letih jadi
semua terbawa perasaan. Jadi, ibu tidak usah khawatir ya denganku.” Ucapku
sesantai mungkin untuk mengurangi kecurigaan ibu terhadapku. Untung saja aku
memiliki kacamata yang selalu dibawa kemana-mana jadi sekarang aku mengenakan
kacamata untuk menutupi mataku yang sedikit bengkak.
”Yowis kalau begitu. Pokoknya kalau ada
apa-apa cerita ke ibu ya. Ibu berhak tau kan ibu ini ibumuloh. Kalau memang
kamu tidak apa-apa lebih baik sekarang kamu ke kamar,ganti pakaian. Ada yang
ingin ayah dan ibu bicarakan ke kamu seperti yang tadi ibu katakan di telepon. Ini
penting ya. Jangan lama-lama ya nak.” Ujar ibuku yang lansung aku setujui
dengan sekali anggukan. Setelah itu, aku pun bergegas ke kamar untuk membersihkan
diri. Aku tak boleh terlihat menyedihkan di hadapan mereka.
***
Sekarang keadaanku sedikit lebih baik dengan
membersihkan diri dan mengompres mata bengkakku, aku pun bergegas menuju ruang
keluarga tempat keluarga kami biasa berkumpul. Mau membicarakan apa ya mereka, gumamku dalam hati. Sepertinya
berkaitan dengan perjodohan lagi.
***
“Tadi kenapa Shaina, Bu?” Tanya ayah kepada
ibu sambil memegang remote mengganti saluran televisi.
“Tidak tau Yah, dia tidak bercerita.
Sepertinya tidak mau membuat kita sedih. Tadi dia bilang sih dia sedih karena
belum bisa membahagiakan kita. Apa dia sudah memiliki firasat ya kalau dia mau
dijodohin lagi?” tanya ibu dengan ekspresi agak khawatir.
“Ayah tidak akan lelah bu menjodohkan dia.
Selama ini memang dia menolak. Ayah berharap ini yang terakhir apalagi dia juga
sudah kenal dengan orang tua laki-laki itu. Ya, walaupun begitu ayah juga tak
akan memaksa dia Bu. Yang penting dia kenal dulu sajalah.” Jawab ayah yakin.
“Siapa yah yang aku kenal?” Tiba-tiba Shaina
datang dengan ekspresi penuh tanya. Tadi di saat ia akan menuju ke ruang
keluarga ia tak sengaja mendengar percakapan singkat antara ayah dan ibunya.
Dan firasatnya benar bahwa apa yang ingin dikatakan kedua orang tuanya adalah
tentang perjodohan. Lagi-lagi perjodohan, apakah
aku harus menerima perjodohan kali ini, bisiknya dalam hati.
***
“Siapa yah yang aku kenal dan akan dijodohkan
dengan aku?” Tanyaku penasaran ke arah ayah dan ibu dengan posisi masih
berdiri.
“Duduk dululah kamu. Bagaimana ibu dan ayah
akan bicara kalau kamu masih berdiri seperti itu?” Ucap ibuku.
“Oh iya.” sahutku sambil mendudukan pantatku
di sofa tepat di hadapan kedua orang tuaku. Yang ku lihat dari ekspresi mereka
sepertinya ini pembicaraan serius. Semoga tidak ada pemaksaan mengingat aku
selalu menolak segala bentuk perjodohan yang di sodorkan ayahku selama ini.
“Seperti yang ayah dengar dari ibumu, tadi
kamu lagi sedih? Sedih kenapa toh?” Tanya ayahku dengan ekspresi penasaran
“Tidak ada yah. Ini hanya masalah kecil. Tadi
kan aku sudah bilang ke ibu apa alasan aku sedih.” Jawabku sesantai mungkin.
“Hemm, jadi bener karena itu kamu sedih?
Sedih belum bisa membahagiakan ayah dan ibu?” tanya ayah sekali lagi.
Aku menganggukan kepala menjawab pertanyaan
ayah.
“Sudahlah yah langsung saja dikatakan jangan
dibuat teka-teki seperti itu.” Ucap ibu dengan ekspresi tidak sabar membuat aku
jadi penasaran. Sebenarnya apa sih yang ingin dikatakan mereka berdua.
“Iya bu. Sabar dong.” Jawab ayah santai.
“Jadi begini anakku Shaina. Mungkin kamu
sudah tahu kemana arah pembicaraan kita kali ini. Ayah harap kamu harus
mengerti dan mendengarkan apa yang ayah katakan sampai selesai.” Ucap ayah
sekali lagi dan aku menganggukkan kepala sekali lagi.
“Usiamu sudah 25 tahun. Selama ini kamu tidak
pernah serius dengan laki-laki. Yang ayah tahu kamu hanya dekat dengan Vio, Bagas
dan Faali saja. kedekatan ini pun juga tak jelas seperti apa. Ayah hanya
khawatir Nak. Ya, memang yang namanya jodoh itu sudah diatur tetapi kan perlu
usaha juga untuk mendapatkannya. Dan ayah juga selalu mengingat pekerjaan kamu yang
berprofesi sebagai auditor. Ayah tahu nak pekerjaanmu itu sangat memakan waktu
luang kamu. Ayah tidak akan minta banyak hal dari kamu untuk membahagiakan kami
berdua seperti yang kamu katakan tadi. Kami hanya ingin kamu tidak menolak lagi
perjodohan kali ini. Ya, seperti yang sebelumnya ayah pernah lakukan ke kamu.
Ayah ingin menjodohkan kamu dengan anak teman dekat ayah dan Ibu. Yang tadi
ayah maksud kamu kenal yaitu kamu akan mengenal dia seiring dengan waktu. Karena
anak itu anak yang supel. Ayah pernah bertemu dengannya 2 tahun lalu saat ayah
pergi ke UK menghadiri acara jalan-jalan dengan rombongan alumni SMA. Kamu
masih ingat kan?”
Ya, aku masih ingat, saat itu aku ditinggal
sendirian di rumah karena ayah dan ibu pergi ke UK menghadiri acara di sana.
Katanya acara jalan-jalan teman-teman SMA mereka. Ah, kalau ingat UK jadi ingat
seseorang. Kalau dihitung-hitung ini adalah perjodohan ke limaku. Ya, selama
ini aku selalu menolak berbagai hal yang berbau perjodohan. Karena itu aku
masih mengharapkan seorang Rizan. Tetapi fakta tentang Rizan saat ini serta
dorongan semangat dari Caca untuk melupakan fakta itu membuatku jadi berpikir
kembali dengan laki-laki itu. Apakah aku harus menerima perjodohan kali ini.
Toh aku yakin ayah tidak akan memaksa jika aku tidak suka dengan calonku ini. Ya,
sekedar kenal tidak apa-apa kan. Aku harus bergerak maju. Jujur mengetahui
fakta tentang Rizan membuatku merasa menjadi wanita yang paling bodoh karena
mengharapkan cinta dari seseorang yang selama ini menghilang. Aku akan menerima
perjodohan ini sebagai tantanganku. Aku butuh sesuatu untuk melupakan fakta
malam ini. mungkin benar apa kata Caca tadi, mungkin ini adalah awal dari
pencarian jodohku yang sesungguhnya.
“Bagaimana?”Ucap ayah menghentikan lamunanku.
“Kamu kenalan dulu saja tidak langsung
menerima kok. Sepulang dari Jogja kamu langsung ketemu dia ya. Ayah akan atur
pertemuan kalian.” Jawab ayah mantap. Aku
kan belum memberikan keputusan yah, gumamku dalam hati.
“Aku akan kenalan dulu dengan dia yah. Dengan
syarat jika aku tidak suka aku tidak akan melanjutkan perjodohan kali ini.”
ucapku
“Iya, ayah juga tidak akan memaksa kamu untuk
menerima ini. Yang penting kamu kenalan dulu dengan dia. Tapi ayah yakin kamu
akan suka dengan calon ayah kali ini. iya kan bu?”ucap ayah sambil melirik ke
arah ibu.
“Iya, ibu juga yakin Nak.”Jawab ibu yakin.
Kenapa mereka berdua sangat yakin dengan
perjodohan kali ini. biasanya kalau orang tua yakin akan terkabul. Ah, semoga
saja tidak. Aku kan menerima ini semua sebagai tantangan untuk melampiaskan
kekecewaanku. Bukan serius untuk memulai hubungan. Pasrahlah aku. Jalani saja
dulu. Toh kalau tidak suka tinggal menolak. Mudahkan.
“Yowis,sudah hampir menjelang tengah malam
kamu tidur ya, besok pagi kan harus ke Jogja.”Ucap ibu yang ku balas dengan
pamitan selamat malam ke mereka berdua. Semoga pembicaraan kali ini pertanda
baik bisikku dalam hati.
***
1 jam sudah berlalu sejak kejadian tadi dan
mataku belum bisa tertutup. Padahal besok pagi aku akan pergi ke Jogjakarta.
Jangan ditanya keadaan mataku sekarang. Bertambah bengkak. Sekembali dari
ruangan keluarga tak kuasa aku menangis lagi. Entahlah kenapa airmataku ini
terus memaksaku untuk mengeluarkannya. Mungkin aku dilema seperti lagunya
cherrybelle. Memikirkan percakapan dengan kedua orang tuaku tadi benar-benar
mengocok perasaanku. Aku bingung harus bagaimana. Menerima perjodohan tetapi
hatiku masih tertuju kepada 1 nama, yaitu Rizan. Tetapi disisi lain aku ingin
menghapus nama itu dengan menerima perjodohan kali ini. Memang, tidak mudah
begitu saja nama itu akan terhapus. Nama itu sudah sangat lengket di hatiku
bagai permen karet. Dan bertambah dilema dengan firasat yang dirasakan kedua
orang tuaku yang sangat yakin dengan pria yang akan dijodohkan denganku kali
ini. Ah,benar-benar dilema. Saat mengecek handphone pun tak ada balasan dari
Vio. Padahal aku ingin menceritakan segala kegundahan di hatiku ini. Tak biasanya
Vio begini, semoga besok dia menghubungiku.
***
Di
sebuah Apartement nan tenang..
“Ya ampun jam berapa sekarang?” Ucap Vio sembari melirik ke arah jam
yang berada di atas lemarinya. Sepulang dari rumah orang tuanya vio langsung tertidur
di kamarnya. Sepulang dari kantor ayahnya tadi ia berencana menghabiskan malam
hanya bersama shaina, namun karena shaina telah memiliki agenda akhirnya ia
memutuskan untuk menghabiskan waktunya bersama keluarga tercinta. Satu hal yang
membuat seorang Alvio bimbang adalah permintaan sang mama untuk membawa Shaina
ke hadapannya. Selama ini sang mama memang belum pernah bertemu dengan Shaina.
Hanya melihatnya dari foto-foto yang Alvio tunjukkan. Entahlah apa yang
diinginkan sang mama untuk bertemu dengan Shaina.
"Ah, gila lumayan lama ya gua tidur!!!" Ucapnya sembari merenggangkan
kedua tangannya dan setelah itu ia bergegas menuju kamar mandi. Ketika di depan
pintu kamar mandi langkahnya terhenti.
"Ngomong-ngomong hape gua mana ya?" Ujarnya sembari melirik ke arah meja di
dekat ranjangnya. Ia pun teringat akan sesuatu.
"Kayaknya ketinggalan di rumah mami ni. Aduh kacau!" Ucapnya kembali dan
setelah itu ia pun bergegas menuju kamar mandi tanpa berkata-kata lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar