Kamis, 16 Januari 2014

Kisahku dan Dia (Masih berharap) Part 4




 
Seandainya hati seseorang dapat dianalisis atau diperiksa layaknya menganalisis dan memeriksa laporan keuangan mungkin aku dapat mengetahui bagaimana perasaan seorang Rizan terhadapku. Aku tak mengerti apa arti cinta yang sesungguhnya. Apakah cinta yang ku miliki ini hanya menjadi cinta yang tak terbalas. Aku tahu bahwa yang namanya cinta tak harus selalu memiliki. Cinta dapat dipertahankan dengan sebuah keyakinan bahwa cinta yang terpendam itu hanya menjadi cinta yang murni tanpa ada sebuah ikatan. Dapat dikatakan cinta tersebut adalah cinta dalam diam.
“Kamu kenapa baru pulang? Gak seperti biasanya kamu pulang diam seperti ini, biasanya selalu mengucap salam sambil teriak-teriak. Katanya besok ke Jogja? Itu kenapa pintunya tidak ditutup kenapa kamu Cuma memegang gagangnya saja?” Suara rentetan ibu terdengar tepat di belakangku dan sukses menghentikan lamunanku. Aku berbalik dan langsung menatap mata ibuku. Aku butuh pelukan.
“Kamu kenapa kok malah jadi nangis?” Tanya ibuku kebingungan karena aku bukannya menjawab pertanyaannya malah langsung menghambur ke pelukannya.
“Gak apa-apa, Bu. Aku lagi sedih saja. memikirkan sampai sekarang aku belum bisa membahagiakan ibu dan ayah.” Jawabku dengan suara serak karena kebanyakan menangis.
“Kamu ini kenapa kok jadi aneh begini. Bagi ibu kamu sudah ada di dekat ibu dan ayah saja sudah membuat ibu dan ayah bahagia, Nak. Kalau kamu ada masalah ceritakan kepada kami.” Ucap ibuku tenang seolah-olah menenangkan hatiku yang sedang kalut.
“Tidak ada, Bu. Mungkin aku hanya letih jadi semua terbawa perasaan. Jadi, ibu tidak usah khawatir ya denganku.” Ucapku sesantai mungkin untuk mengurangi kecurigaan ibu terhadapku. Untung saja aku memiliki kacamata yang selalu dibawa kemana-mana jadi sekarang aku mengenakan kacamata untuk menutupi mataku yang sedikit bengkak.
”Yowis kalau begitu. Pokoknya kalau ada apa-apa cerita ke ibu ya. Ibu berhak tau kan ibu ini ibumuloh. Kalau memang kamu tidak apa-apa lebih baik sekarang kamu ke kamar,ganti pakaian. Ada yang ingin ayah dan ibu bicarakan ke kamu seperti yang tadi ibu katakan di telepon. Ini penting ya. Jangan lama-lama ya nak.” Ujar ibuku yang lansung aku setujui dengan sekali anggukan. Setelah itu, aku pun bergegas ke kamar untuk membersihkan diri. Aku tak boleh terlihat menyedihkan di hadapan mereka.
***
Sekarang keadaanku sedikit lebih baik dengan membersihkan diri dan mengompres mata bengkakku, aku pun bergegas menuju ruang keluarga tempat keluarga kami biasa berkumpul. Mau membicarakan apa ya mereka, gumamku dalam hati. Sepertinya berkaitan dengan perjodohan lagi.
***

“Tadi kenapa Shaina, Bu?” Tanya ayah kepada ibu sambil memegang remote mengganti saluran televisi.
“Tidak tau Yah, dia tidak bercerita. Sepertinya tidak mau membuat kita sedih. Tadi dia bilang sih dia sedih karena belum bisa membahagiakan kita. Apa dia sudah memiliki firasat ya kalau dia mau dijodohin lagi?” tanya ibu dengan ekspresi agak khawatir.
“Ayah tidak akan lelah bu menjodohkan dia. Selama ini memang dia menolak. Ayah berharap ini yang terakhir apalagi dia juga sudah kenal dengan orang tua laki-laki itu. Ya, walaupun begitu ayah juga tak akan memaksa dia Bu. Yang penting dia kenal dulu sajalah.” Jawab ayah yakin.
“Siapa yah yang aku kenal?” Tiba-tiba Shaina datang dengan ekspresi penuh tanya. Tadi di saat ia akan menuju ke ruang keluarga ia tak sengaja mendengar percakapan singkat antara ayah dan ibunya. Dan firasatnya benar bahwa apa yang ingin dikatakan kedua orang tuanya adalah tentang perjodohan. Lagi-lagi perjodohan, apakah aku harus menerima perjodohan kali ini, bisiknya dalam hati.
***
“Siapa yah yang aku kenal dan akan dijodohkan dengan aku?” Tanyaku penasaran ke arah ayah dan ibu dengan posisi masih berdiri.
“Duduk dululah kamu. Bagaimana ibu dan ayah akan bicara kalau kamu masih berdiri seperti itu?” Ucap ibuku.
“Oh iya.” sahutku sambil mendudukan pantatku di sofa tepat di hadapan kedua orang tuaku. Yang ku lihat dari ekspresi mereka sepertinya ini pembicaraan serius. Semoga tidak ada pemaksaan mengingat aku selalu menolak segala bentuk perjodohan yang di sodorkan ayahku selama ini.
“Seperti yang ayah dengar dari ibumu, tadi kamu lagi sedih? Sedih kenapa toh?” Tanya ayahku dengan ekspresi penasaran
“Tidak ada yah. Ini hanya masalah kecil. Tadi kan aku sudah bilang ke ibu apa alasan aku sedih.” Jawabku sesantai mungkin.
“Hemm, jadi bener karena itu kamu sedih? Sedih belum bisa membahagiakan ayah dan ibu?” tanya ayah sekali lagi.
Aku menganggukan kepala menjawab pertanyaan ayah.
“Sudahlah yah langsung saja dikatakan jangan dibuat teka-teki seperti itu.” Ucap ibu dengan ekspresi tidak sabar membuat aku jadi penasaran. Sebenarnya apa sih yang ingin dikatakan mereka berdua.
“Iya bu. Sabar dong.” Jawab ayah santai.
“Jadi begini anakku Shaina. Mungkin kamu sudah tahu kemana arah pembicaraan kita kali ini. Ayah harap kamu harus mengerti dan mendengarkan apa yang ayah katakan sampai selesai.” Ucap ayah sekali lagi dan aku menganggukkan kepala sekali lagi.
“Usiamu sudah 25 tahun. Selama ini kamu tidak pernah serius dengan laki-laki. Yang ayah tahu kamu hanya dekat dengan Vio, Bagas dan Faali saja. kedekatan ini pun juga tak jelas seperti apa. Ayah hanya khawatir Nak. Ya, memang yang namanya jodoh itu sudah diatur tetapi kan perlu usaha juga untuk mendapatkannya. Dan ayah juga selalu mengingat pekerjaan kamu yang berprofesi sebagai auditor. Ayah tahu nak pekerjaanmu itu sangat memakan waktu luang kamu. Ayah tidak akan minta banyak hal dari kamu untuk membahagiakan kami berdua seperti yang kamu katakan tadi. Kami hanya ingin kamu tidak menolak lagi perjodohan kali ini. Ya, seperti yang sebelumnya ayah pernah lakukan ke kamu. Ayah ingin menjodohkan kamu dengan anak teman dekat ayah dan Ibu. Yang tadi ayah maksud kamu kenal yaitu kamu akan mengenal dia seiring dengan waktu. Karena anak itu anak yang supel. Ayah pernah bertemu dengannya 2 tahun lalu saat ayah pergi ke UK menghadiri acara jalan-jalan dengan rombongan alumni SMA. Kamu masih ingat kan?”
Ya, aku masih ingat, saat itu aku ditinggal sendirian di rumah karena ayah dan ibu pergi ke UK menghadiri acara di sana. Katanya acara jalan-jalan teman-teman SMA mereka. Ah, kalau ingat UK jadi ingat seseorang. Kalau dihitung-hitung ini adalah perjodohan ke limaku. Ya, selama ini aku selalu menolak berbagai hal yang berbau perjodohan. Karena itu aku masih mengharapkan seorang Rizan. Tetapi fakta tentang Rizan saat ini serta dorongan semangat dari Caca untuk melupakan fakta itu membuatku jadi berpikir kembali dengan laki-laki itu. Apakah aku harus menerima perjodohan kali ini. Toh aku yakin ayah tidak akan memaksa jika aku tidak suka dengan calonku ini. Ya, sekedar kenal tidak apa-apa kan. Aku harus bergerak maju. Jujur mengetahui fakta tentang Rizan membuatku merasa menjadi wanita yang paling bodoh karena mengharapkan cinta dari seseorang yang selama ini menghilang. Aku akan menerima perjodohan ini sebagai tantanganku. Aku butuh sesuatu untuk melupakan fakta malam ini. mungkin benar apa kata Caca tadi, mungkin ini adalah awal dari pencarian jodohku yang sesungguhnya.
“Bagaimana?”Ucap ayah menghentikan lamunanku.
“Kamu kenalan dulu saja tidak langsung menerima kok. Sepulang dari Jogja kamu langsung ketemu dia ya. Ayah akan atur pertemuan kalian.” Jawab ayah mantap. Aku kan belum memberikan keputusan yah, gumamku dalam hati.
“Aku akan kenalan dulu dengan dia yah. Dengan syarat jika aku tidak suka aku tidak akan melanjutkan perjodohan kali ini.” ucapku
“Iya, ayah juga tidak akan memaksa kamu untuk menerima ini. Yang penting kamu kenalan dulu dengan dia. Tapi ayah yakin kamu akan suka dengan calon ayah kali ini. iya kan bu?”ucap ayah sambil melirik ke arah ibu.
“Iya, ibu juga yakin Nak.”Jawab ibu yakin.
Kenapa mereka berdua sangat yakin dengan perjodohan kali ini. biasanya kalau orang tua yakin akan terkabul. Ah, semoga saja tidak. Aku kan menerima ini semua sebagai tantangan untuk melampiaskan kekecewaanku. Bukan serius untuk memulai hubungan. Pasrahlah aku. Jalani saja dulu. Toh kalau tidak suka tinggal menolak. Mudahkan.
“Yowis,sudah hampir menjelang tengah malam kamu tidur ya, besok pagi kan harus ke Jogja.”Ucap ibu yang ku balas dengan pamitan selamat malam ke mereka berdua. Semoga pembicaraan kali ini pertanda baik bisikku dalam hati.
***
1 jam sudah berlalu sejak kejadian tadi dan mataku belum bisa tertutup. Padahal besok pagi aku akan pergi ke Jogjakarta. Jangan ditanya keadaan mataku sekarang. Bertambah bengkak. Sekembali dari ruangan keluarga tak kuasa aku menangis lagi. Entahlah kenapa airmataku ini terus memaksaku untuk mengeluarkannya. Mungkin aku dilema seperti lagunya cherrybelle. Memikirkan percakapan dengan kedua orang tuaku tadi benar-benar mengocok perasaanku. Aku bingung harus bagaimana. Menerima perjodohan tetapi hatiku masih tertuju kepada 1 nama, yaitu Rizan. Tetapi disisi lain aku ingin menghapus nama itu dengan menerima perjodohan kali ini. Memang, tidak mudah begitu saja nama itu akan terhapus. Nama itu sudah sangat lengket di hatiku bagai permen karet. Dan bertambah dilema dengan firasat yang dirasakan kedua orang tuaku yang sangat yakin dengan pria yang akan dijodohkan denganku kali ini. Ah,benar-benar dilema. Saat mengecek handphone pun tak ada balasan dari Vio. Padahal aku ingin menceritakan segala kegundahan di hatiku ini. Tak biasanya Vio begini, semoga besok dia menghubungiku.
***




Di sebuah Apartement nan tenang..

“Ya ampun jam berapa sekarang?” Ucap Vio sembari melirik ke arah jam yang berada di atas lemarinya. Sepulang dari rumah orang tuanya vio langsung tertidur di kamarnya. Sepulang dari kantor ayahnya tadi ia berencana menghabiskan malam hanya bersama shaina, namun karena shaina telah memiliki agenda akhirnya ia memutuskan untuk menghabiskan waktunya bersama keluarga tercinta. Satu hal yang membuat seorang Alvio bimbang adalah permintaan sang mama untuk membawa Shaina ke hadapannya. Selama ini sang mama memang belum pernah bertemu dengan Shaina. Hanya melihatnya dari foto-foto yang Alvio tunjukkan. Entahlah apa yang diinginkan sang mama untuk bertemu dengan Shaina.
"Ah, gila lumayan lama ya gua tidur!!!" Ucapnya sembari merenggangkan kedua tangannya dan setelah itu ia bergegas menuju kamar mandi. Ketika di depan pintu kamar mandi langkahnya terhenti.
"Ngomong-ngomong hape gua mana ya?" Ujarnya sembari melirik ke arah meja di dekat ranjangnya. Ia pun teringat akan sesuatu.
"Kayaknya ketinggalan di rumah mami ni. Aduh kacau!" Ucapnya kembali dan setelah itu ia pun bergegas menuju kamar mandi tanpa berkata-kata lagi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar