Senin, 15 Juli 2013

Kisahku dan Dia (Masih Berharap) Part 3



Part 3

Shaina POV

Aku yang shock mendengar kabar Rizan bertunangan pun berusaha tersenyum senormal mungkin. Hancur hatiku, remuk saat mendengar rizan mengenalkan “calon istrinya” itu kepadaku. Habis sudah harapan yang aku bangun selama ini tentangnya. Sekarang aku benar-benar wanita yang hancur karena memiliki pengharapan yang tinggi terhadap seorang lelaki. Entahlah perasaanku yang tadi berbunga-bunga atas sikap Rizan yang berbeda terhadapku sekarang berubah seketika. Jadi penantianku selama 7 tahun ini sia-sia. Alasan yang tidak logis memang menunggu seorang selama itu.
Biasanya instingku selalu benar terhadap perasaanku. Tetapi ini apa. Kenapa jadi begini. Aku memang tidak berhak menyalahi Rizan. Toh memang selama ini diriku saja yang ke-pede-an berharap ia suka padaku. Tetapi kenyataannya sekarang di hadapanku ia telah memiliki seorang tunangan. Lalu apa maksud kata ambigu yang pernah ia ucapkan dulu ke aku. Dan Aku harus bagaimana sekarang. Rasanya aku ingin pergi dari sini tetapi kalau seperti itu akan membuat rizan dan yang lainnya curiga. Aku merasa nyawaku sudah melayang setengah. Dan besok aku harus ke Jogja pula. Entahlah rasanya semangat itu telah padam dan semua seakan bertumpuk jadi satu. Satu masalah datang.

“Hei, kok jadi pada diam? Terpesona sama tunangan gua?” Suara Rizan yang terkekeh membuyarkan tentang “hatiku yang sedang berdenyut” menanti apa yang akan ia kabari berikutnya. Dan ku melihat ke arah Maura ia pun tersenyum dengan ucapan Rizan tadi.

“Gak Zan, kaget aja gua selama ini elo menghilang dan sekarang tiba-tiba bawa tunangan.” Celetuk Caca sembari menatap ke arahku seolah mewakili perasaanku yang bertanya-tanya tentang hal ini.

“Iya Zan udah mau nikah aja dong elo ya? Mau nyusul gua ya? Gila! Hilang 7 tahun langsung mau nikah!” Tanya Faali.

“Nyusul?” Tanya Rizan heran dengan pertanyaan Faali.


“Iya, dia kan udah nikah, Zan. Makanya hilang tu ngabarin gak ngabur gitu aja.” Sahut Bagas yang menjawab keheranan Rizan.

“Oalah gua kayaknya ketinggalan info banget ya. Dan cerita gue masih panjang sebenernya. Berhubung Maura udah balik dari toilet dengan sedikit menyesal gua gak bisa lama-lama ni gua mesti ke rumahnya. Tadi kan niatnya gua ke sini mau ketemu Bang Joy aja, minta nomor kalian ke dia. Pasti Bang Joy Tahu kan. Tapi takdir berkata lain.” Ucap Rizan ke arahku, Caca, Faali dan Bagas. Aku yang sedari tadi diam berusaha bersikap senormal mungkin dengan tersenyum kecil ke arahnya.

“Eh iya gue juga gak bisa lama-lama pulang besok kan mau ke Jogja.” sahutku tenang agar tidak menimbulkan kecurigaan.

“Hah?! Ke Jogja? Berapa lama ke Jogja Na? Gua baru dateng elo malah mau pergi.” Tanya Rizan dengan ekspresi sedikit kecewa.

“Ah iya gue ada dinas dari kantor sekitar 2 minggu.” Ucapku setenang mungkin.

“Dia kan sekarang auditor, Zan!” Potong Faali

“Wuih Mantep ya sekarang Shaina kita ini. Sekarang jadi auditor dan lebih feminim ya.” ucap Rizan yang tak luput dari perhatianku. Tadi dia mengucapkan ‘shaina kita ini’ dan apa tadi dia juga bilang aku feminim. aduh plis jangan buat aku tambah “geer” dengan sikap aneh kamu Zan. Jangan tambah pengharapan palsu lagi. Kamu sudah bertunangan,ucapku dalam hati.

“Hemm maaf ya saya memotong obrolan kalian tapi kami sudah ditunggu.” Suara Maura menyela obrolan kami.

“Ayo sayang mama sudah nunggu kita. Barusan mama BBM aku.” Ucap Maura kembali lagi-lagi dengan senyum manisnya. Apa senyum manisnya itu senjata ampuhnya ya sehingga ia berhasil menggaet Rizan. Entahlah yang jelas aku yakin ada sesuatu yang disembunyikan Rizan dari kita semua. Kenapa dengan si Maura ini ya kenapa dia melihatku sinis begitu ya, gumamku sekali lagi dalam hati.

“Gua minta maaf banget ni ya karena gak bisa lama-lama. Yauda kapan kalian ada waktu kosong kita janjian ketemuan lagi ya, gua minta nomor kalian deh.” Ucap Rizan dan setelah itu aku dan yang lainnya memberikan nomor masing-masing. Setelah itu Rizan dan maura pamitan untuk pulang. Kepergian mereka berdua dari hadapanku telah meninggalkan luka ternganga di hatiku. Aku harus ke toilet.


***
Author POV

Di toilet..

“Na! Gue tau elo di dalem. Kita semua heran kenapa Rizan pergi elo malah buru-buru ke toilet. Katanya tadi gak bisa lama-lama di sini. Katanya besok mau ke Jogja? Ayo dong ke luar Na. Udah 10 menit elo gak balik-balik kita pikir elo pulang. Gue curiga ada apa-apa sama elo, makanya gue nyusul ke sini.” Ucap Caca sambil menggedor pintu kabin toilet tempat Shaina berada.

“Caca.. “ Ucap shaina dengan suara yang bergetar.

“Iya Na, keluar ya sekarang. Gue tau kenapa elo begini.” Sahut Caca dengan suara membujuk.

Akhirnya Shaina keluar dan memperlihatkan tampang yang berantakan. Rambut acak-acakan seolah sehabis dijambak dan mata yang memerah seperti habis menangis. Setelah keluar ia pun langsung menghambur memeluk caca dan menangis lagi.

***


Shaina POV

“Keluarin semuanya Na. Kenapa lo tahan semua ini sendirian?” Tanya Caca sambil melepas pelukanku dan menatapku dengan seksama.

“Gue gak tau ternyata selama ini elo masih belum melupakan Rizan. Elo bilang udah gak ada perasaan lagi sejak 5 tahun lalu?” Ucap Caca sekali lagi.

“Na? Jawab dong pertanyaan gue!” Seru caca sambil menggoyangkan bahuku.

“Iya Ca. Gue gak bisa ngelupain dia. Sejak gue bilang gue ngelupain dia ke elo, gua beralih cerita ke Vio tentang kisah pengharapan gue ini. Ahh, bener-bener wanita bodoh gue Ca!” Ucapku sambil meremas rambutku.

“Shaina, gue sebagai sahabat  gak akan menyalahkan elo akan perasaan elo itu. Tapi yang gue heran ada ya di kehidupan nyata seperti ini wanita yang mengharapkan cinta selama bertahun-tahun kayak elo. Hemm, sekarang gue sadar kenapa elo selalu menolak kalau dikenalin cowok. Bukan karena pekerjaan lo kan? Tapi karena Rizan? Iya kan Na?” tanya Caca gemas.

“Iya Ca! Gue emang sangat bodoh. Terserah lo beranggapan apa tentang gue. Tapi gue yakin dengan cinta gue ini. Cuma Rizan yang berhasil ngerebut hati gue. Dia yang selalu menerima gue apa adanya. Dia laki-laki yang berbeda dari yang lain Ca. Dulu setelah perayaan kelulusan kita, dia bilang gue harus nunggu. Apa coba perkataan dia dulu. Apa coba Ca?” Tanyaku dengan suara serak karena banyak mengeluarkan air mata.

“Terus tadi kenapa sikap dia beda Ca? Kenapa?? Dia tadi meluk gue terus gandeng tangan gue juga. Selama ini kan dia gak pernah meluk atau bersikap mesra kayak gitu ke gue Caaa...hiks,hiks..”

“Aduh Shaina sekali lagi ya gue bilang kalau gue gak menyalahkan perasaan elo itu, ini realita bukan kisah drama atau novel yang bakal berakhir bahagia dengan menunggu cinta selama bertahun-tahun. Kebanyakan nonton dan baca cerita roman si elo ya, jadi begini kan sekarang. Ya mungkin itu Ca karena kelamaan tinggal di Benua Eropa bikin Rizan jadi terbiasa dengan kebiasaan orang sana. Orang sana suka berpelukan dan ciuman kan Na. Udah jangan ngarep lagi ya. Gue tau itu susah Na, gue tau banget. Tapi gak gini juga kan bikin elo jadi tersiksa..”

“Hemm, mungkin juga dia nyuruh elo nunggu itu buat buktiin kesuksesan dia Na. Mungkin menunggu pembuktian dia bahwa dia bisa sukses. Iya itu kali. Nah, sekarang gue tanya pernah gak satu kali aja dia bilang cinta ke elo?” Tambah Caca sekali lagi.

Aku hanya bisa diam karena tak mampu menjawab pertanyaan Caca. Memang Rizan tak pernah sekalipun mengucapkan cinta kepadaku. Tapi aku yakin dengan hal itu. Aku yakin.

“Pernah gak Ca? Kok diem aja? Emang gak pernah kan?”

“Nah, sekarang lupain Rizan ya, masih banyak laki-laki yang jauh lebih baik dari dia. Gue sebagai sahabat gak mau ngeliat sahabatnya menderita karena cowok. Karena sakit Na rasanya disakiti. Lo itu cewek baik Ca harus yakin dapet cowok yang baik juga nanti. Sekarang tetapin di hati lo bahwa fakta tentang Rizan ini menjadi awal pencarian jodoh lo yang sesungguhnya Na.”

“Tapi ca, gue..

“Gak ada tapi-tapian gue gak akan mendukung sahabat gue untuk merebut calon suami orang lain. Sekarang kita bersikap seperti  dulu lagi ya. Buka hati lo untuk yang lain. Buka Na.”

“Ca.. gue. Susah Ca buat membuka hati lagi. Susah! Dan mereka kan masih bertunangan Ca. Masih ada kesempatan kan buat gue. Iya kan Ca?“ Ucapku terbata-bata.

“Na, kita wanita. Maura itu juga wanita. Jangan menyakiti wanita, Na. Sakit rasanya disakiti laki-laki apabila elo nekat ngerebut Rizan dari Maura. Jangan bodoh karena cinta Na. Yaa, emang terkadang orang yang merasakan cinta bisa bodoh juga sih. Untuk itu gue harap elo bersedia berkorban demi wanita lain. Yakin Na, suatu saat akan datang hari indah itu untuk elo dan gue. Tuhan Maha Tahu kok Na. Jika memang Rizan jodoh lo pasti Tuhan akan memberi kesempatan untuk kalian bersatu Ca. Pasti ada jalannya. Percaya dan selalu semangat ya na? Gue akan selalu mendukung hal baik buat elo. Oke?”

“Ca..” ucapku sambil meneteskan air mata terharu mendengar dukungan semangat dari Caca.

“Gue yakin elo bisa. Hapus air mata lo ya, gue tau elo itu orangnya semangat. Jangan hanya karena cowok elo mengabaikan dunia sekitar lo.” Ucap Caca sambil memelukku.

“Ca, terima kasih semangatnya.” Ucapku pelan di telinganya sambil mengeratkan pelukannya.

“Setelah ini kita bersikap kayak biasa lagi ya. Jangan karena ini persahabatan kita di gerombolan si berat jadi renggang. Oke?” tanya Caca dengan ekspresi penuh dengan semangat yang berkobar.

“Hemm.” Cuma itu jawabanku. Setelah itu kami pun berpelukan lagi.

***

Setelah kejadian mengharukan di toilet tadi hatiku sedikit terobati. Dukungan Caca sedikit membangun semangatku kembali. Walau begitu hatiku masih sedikit sakit. Setelah dari toilet tadi aku langsung menuju parkiran ditemani Caca tanpa berpamitan dengan Faali dan Bagas. Aku tak mau mereka melihat tampangku yang berantakan. Aku hanya menitip pesan untuk mereka melalui Caca. Setelah itu aku pun meninggalkan Joytaste dengan kesedihan yang mendalam.
***

Saat ini aku berada 20 meter dari Joytaste. Aku meminggirkan mobilku sebentar untuk mengeluarkan kembali air mata yang tadi sempat terhenti. Rasanya sakit melihat laki-laki yang aku cintai telah bertunangan. Aku butuh Vio untuk tempat curahan hatiku. Tetapi sedari tadi aku telepon tak ada jawaban darinya.  Vio angkat dong panggilan aku.
“Halo?” terdengar suara wanita dari ujung sana. Siapa wanita ini ya. Kenapa ia mengangkat panggilan dari handphone Vio. Apa ini kekasihnya.

“Halo, siapa ya?” Sekali lagi terdengar suara itu dan suara itu begitu lembut. Aku tidak mau mengganggu vio dan kekasihnya. Aku matikan sajalah. Mungkin dia sedang ke toilet dan karena aku terus-terusan menelpon jadi wanita itu mengangkat deh. Apa aku harus mengirim pesan ya. Pasti kalau ada pesan wanita tadi tidak akan berani membaca. Oke, aku kirim sms aja.

Dikirim pukul 21.15 WIB

Vi, tadi aku telepon kok yang ngangkat wanita ya? Kmu lgi kencan ya? Pdhl aku mau cerita sesuatu. Yauda besok aja. Semoga kencan kmu menyenangkan ya.

Menit ke menit tak ada balasan dari Vio aku pun bergegas pulang ke rumah. Sepertinya ia memang sedang tidak bisa diganggu. Aku pulang saja, ucapku dalam hati sembari membereskan penampilanku yang berantakan karena kebanyakan menangis. Orang tuaku tak boleh melihatku seperti ini. Aku harus move on seperti kata Caca tadi. Aku harus yakin kalau aku bisa.
***

Author POV
“Shaina mana Ca?” Tanya Faali yang heran karena Caca kembali dari toilet hanya sendiri.
“Udah pulang Li. Tadi Tante Suci nelpon dia. Jadi dia buru-buru pulang. Dia titip salam buat kalian kok.” Ucap Caca berusaha tenang agar tidak terlihat mencurigakan.
“oh” hanya itu yang terucap dari bibir Faali dan Bagas mengetahui Shaina telah pulang. Dari ekspresi Faali terlihat bahwa ia sedikit curiga tentang kepulangan mendadak Shaina. Sepertinya ia mengetahui sesuatu.
***

Maura POV

Sejak dari kafe tadi Rizan hanya diam tanpa kata kepadaku. Selama perjalanan dia hanya fokus menyetir. Aku yakin perubahan sikapnya ini dipengaruhi oleh wanita yang ku tabrak tadi. Ya, Shaina. Nama itu sudah tak asing lagi olehku. Tampak jelas tadi wanita itu memiliki rasa rehadap Rizan.Tapi aku juga tak tahu apa yang ada di benak Rizan saat ini. Yang aku yakini Rizan telah berjanji akan mendampingi aku. Tadi pun Aku dengan jelas melihat tunanganku itu memeluk gadis itu.
Sejak insiden tabrakan di toilet tadi aku sudah yakin bahwa Shaina adalah gadis yang selama ini aku takuti. Gadis yang ku anggap musuhku. Memang rizan selalu mengaku dia mencintaiku. Hubunganku selama 2 tahun ini dengannya memang selalu berkembang tiap harinya. Tetapi selama kami bertunangan 2 tahun pun ia selalu menceritakan tentang sahabat wanitanya itu. Entahlah aku selalu merasa ada yang disimpan di hati tunanganku itu.

“Fariz? Kamu seberapa dekat sih dengan sahabat kamu tadi? Shaina ya namanya?” Aku berusaha bertanya dengan setenang mungkin agar tidak terlihat bahwa aku sedikit cemburu dengan sahabatnya yang bernama shaina itu.

“Oh Shaina? Hemm, cukup dekat kok. Kenapa? kamu cemburu ya? Tanya Rizan malah menggodaku.

“Ih, kamu ini ya bukannya jawab pertanyaan aku malah iseng.” Ucapku sambil menyubit lengannya.

“Aduh, kamu ya selalu mencubit aku. Sekali-kali kasih ciuman dong. Hehe.”

“Maunya ya kamu. Yauda gak jadi nanya deh aku.” Ucapku sedikit kesal agar ia berhenti bersikap seperti itu.

“Ngambek ya? Ih kamu kayak anak kecil deh suka ngambek.”

 “Oke, Shaina itu Cuma sahabat aku aja kok sayang. Kamu kan selama ini kenalnya dari cerita aku aja. Coba deh kamu kenalan lebih dekat sama dia. Dia anaknya asyik kok. Tapi emang sih sekarang dia jauh berbeda dengan Shaina yang dulu. Lebih feminim.” Ucapnya sambil terus fokus menyetir.

Iya, Shaina yang selalu diceritakan Fariz dulu adalah Shaina yang tomboi dan selebor. Bukan Shaina yang tadi ku tabrak di toilet tadi. Perbedaan antara Shaina yang dulu dan sekarang sangat berbeda. Aku dulu pernah melihat potretnya di buku tahunan SMA tunanganku itu. Dia lebih cantik sekarang. Dan aku merasa takut kehilangan Fariz. Laki-laki yang ku cintai selama 2 tahun ini.

“Kamu gak usah khawatir gitu dong sayang. Sebentar lagi kan kita mau menikah.” Ucapnya seolah mengetahui isi hatiku yang gelisah dengan sahabat wanitanya itu. Ah, semoga tidak ada hambatan menjelang pernikahanku nanti.

“Kamu janji ya?” Ucapku berusaha meyakinkan diri dengan menanyakan janjinya.

“Iya.” Ucapnya tersenyum dan kembali fokus menyetir. Mendengar itu aku jadi semakin mencintai seorang Farizan Putra Sang Patih. Laki-laki yang selalu menemani isi hatiku selama 2 tahun ini. aku tak pernah menyesal sedikitpun sudah kenal dengannya. Aku yakin ia adalah pendamping hidupku. Semoga tak ada halangan nantinya dalam hubungan kami, gumamku dalam hati.

***

2 komentar:

  1. ihhh rizaaa hebat bisa nulis fiksi segini panjangnya imajinasinyaaa kereeeen, ayo jadiin novel :)))

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah blum hebat bel masih amatiran :p
      iya panjang masih bersambung loh ini hehe
      ini dibuat dr perasaan yg terdalam dan sedikit terinspirasi dr kehidupan pribadi hehe :p

      Hapus